Senin, 28 Maret 2011

"BAHASA TANA" bahasa ibu orang Maluku



“iwato ela painom k, o hei kepeng susah, hei kepeng akaho na susa painoi , lolo fue fufun anakolu isikora apina fia-fia, akang anau e jadi mansia ela a”
“hayo e hidop susa jua, mancari uang susa tar mancari deng tamba susah lai, loko punggul sadiki-sadiki jua par anana iskolah tu, la kata dong jadi orang sadiki”
“duh, hidup sangat susah ya, bekerja susah tidka bekerja makin susah, tidak apa-apa menabung sedikit demi sedikit buat anak-anak sekolah agar mereka menjadi orang yang pintar”
Seperti quote diatas, pada quote pertama adalah ungkapan dari Bahasa Tana, kedua dari bahasa Melayu Ambon, di seluruh maluku dari Kei sampai dengan Ternate terdapat bahasa-bahasa daerah asli maluku yang disebut dengan ‘Bahasa Tana’ bahasa ini tidak hanya terdapat pada beberapa daerah atau desa-desa akan tetapi bahasa ini merupakan bahasa ibu orang maluku, Kenapa saya lebih menulis ‘tana’ dari pada ‘tanah’ walaupun artinya sama namun memiliki nilai yang berbeda dalam bahasa ambon, ‘tana’ dalam bahasa ambon bisa berarti tanah bisa berarti juga ditujukan kepada tanah leluhur di pulau Nusa Ina, sehingga bahasa tana dapat diartikan sebagai bahasa asli suku maluku.
Bahasa yang bermula dari pedalaman Nusa Ina yang dianggap sebagai pulau pertama orang maluku berdiam sebelum tersebar ke seontero maluku. Sedangkan bahasa ambon atau bahasa sehari-hari orang Maluku disebut dengan bahasa Melayu Ambon, yang dipergunakan hampir oleh sebagian besar orang maluku ini dalam komunikasi sehari-hari.
Sampai sekarang tidak kurang dari 117 Bahasa Tana yang terdapat di seluruh maluku ini, dan ada beberapa yang mengalami kepunahan, kebanyakan bahasa-’Bahasa Tana’ yang mengalami kepunahan adalah Bahasa Tana yang dipergunakan oleh desa-desa kristen baik di pulau ambon maupun di sebagian kecil pulau seram. Bahasa Tana pada komunitas kristen pernah dicatatat oleh Geogius Rumphius pada tahun 1987, yaitu di desa Hative dan Hitu, dalam laporannya ia mengatakan bahwa bahasa Ambon (hative dan hitu) sangat berbeda sekali dengan bahasa pulau-pulau yang berdekatan dengannya seperti ternate, makassar dan banda. dan dua bahasa ini yang telah dicatat oleh om george itu sudah punah tanpa jejak sampai sekarang. sedangkan pada komunitas Islam selain masih bertahan juga beberapa hari yang lalu baru diluncurkan “kamus Bahasa Tana Asilulu – Inggris oleh James T. Collins yang telah melakukan penelitian cukup lama tentang punahnya Bahasa Tana di Pulau ambon ini,
Apakah Bahasa Tana telah punah?
Saya sedikit tersenyum ketika membaca tulisan-tulisan seperti ini
“Para pemimpin upacara, dukun atau “orang pake-pake”, adalah komunitas pendukung Bahasa Tana itu. Bahasa yang dipakai ketika mereka berbicara kepada sejarah dan asal-usul mereka. Meminta dukungan dari para leluhur. Ini terjadi pada semua bahasa, yang tersingkir.”
Sedangkan kebanyakan masyarakat Muslim Ambon masih mempunyai bahasa daerah sendiri yang disebut Bahasa Tana” [1]
Sebenarnya Bahasa Tana ini tidak pernah punah setidaknya sampai sekarang ini, sebab penggunaan Bahasa Tana ini masih dijadikan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari pada desa-desa di pulau Seram, saya pun masih bisa menggunakan bahasa-bahasa tersebut dengan tetangga-tetangga saya walaupun kosakata Bahasa Tana saya minim sekali heheheh tapi moga-moga ga termasuk dukun deh.
Selain itu juga juga Bahasa Tana ini tidak lah menjadi bahasa komunitas orang islam saja akan tetapi seperti yang saya jelaskan diatas, Bahasa Tana adalah bahasa Ibu orang maluku, sehingga tidak hanya orangIslam saja yang menggunakan, orang Kristen pun menggunakan Bahasa Tana, walaupun pada komunitas kristen saat ini bahasa tanahnya hampir punah namun mereka mempunyai bahasa tanah juga.
Punahnya Bahasa Tana pada desa-desa Kristen
Penggunaan Bahasa Tana oleh komunitas atau desa Kristen tidak se-intens pada desa-desa Islam sehingga tidak mengherankan pada saat ini tidak terdapat lagi percakapan Bahasa Tana dikalangan komunitas Kristen, penutur Bahasa Tana dikomunitas Kristen hanya tinggal orang tua-tua dan mungkin satu dua orang pemuda yang masih berkomunikasi menggunakan Bahasa Tana, selebihnya Bahasa Tana dari komunitas desa kristen telah punah. Sehingga tidak mengherankan pada saat sekarang Bahasa Tana lebih dikenal di desa-desa Islam dari pada desa kristen.
Hilangnya Bahasa Tana di beberapa desa di Maluku Tengah maupun di Ambon khususnya desa-desa kristen tidak terlepas penjajahan belanda selama berabad-abad di Maluku ini, selain itu perlakuan berbeda yang diterima antara orang Islam dan orang Kristen pada jaman Belanda banyak mempengaruhi hilangnya Bahasa Tana tersebut, perlakuan Belanda dengan memberikan ‘hak’ yang lebih kepada orang kristen untuk bekerja sebagai penginjil maupun tenaga administrasi di pemerintahan Belanda waktu itu menjadi pemicu utama hilangnya Bahasa Tana, dan kebetulan bahasa Melayu telah bekembang diwilayah Hindia Belanda serta djadikan satu-satunya bahasa pengantar diseluruh wilayah ini. Dengan demikian setiap orang yang ingin menjadi pegawai mau tidak mau harus menggunakan bahasa Melayu tersebut dan juga pemakaian bahasa Melayu mempunyai prestise tersendiri pada waktu itu dikalangan orang-orang Maluku. Maka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan menjadi pegawai Belanda sehingga berbahasa Melayu adalah pilihan paling menggiurkan didepan mata, sehingga komunikasi dan secara perlahan Bahasa Tana tersingkirkan oleh bahasa Melayu.
Seperti yang dituturkan oleh Prof. James T. Collins pada waktu Kongres Internasional Bahasa-Bahasa Daerah Wilayah Indonesia Timur, di Ambon beberapa hari yang lalu. Karena alasan-alasan tertentu desa-desa dengan komunitas Muslim saat itu tidak pernah berpikir untuk melakukan hal yang sama, Itulah sebabnya bahasa-bahasa daerah maluku dari komunitas Islam relatif tidak mengalami kepunahan dalam kurung waktu yang panjang. Dan Hasil pembauran antara bahasa daerah dan bahasa melayu saat itu hingga abah 18 memunculkan bahasa ragam melayu dialek ambon yang dikenal sebagai bahasa “Malayu Ambon” yang terus berkembang sampai saat ini, namun pada perkembangannya banyak sekali istilah-istilah asing yang ikut andil dalam mengembangkan bahasa Melayu Ambon ini, terutama Belanda dan Portugis.
Akan tetapi bagi saya tidak semua desa-desa kristen mengalami hal tersebut, dan hal ini pun tidak terlepas dari cara belanda memperlakukan desa-desa tersebut, pada desa-desa Kristen di pulau Seram (dalam hal ini, Seram Selatan), penggunaan Bahasa Tana masih seperti desa-desa tetangga mereka yang Islam, Bahasa Tana masih menjadi percakapan sehari-hari diantara warganya, sehingga saya melihat kepunahan Bahasa Tana tersebut hanya berlaku pada komunitas desa-desa Kristen di Pulau Ambon dan Lease yang nota bene intensitas kedekatan dengan Belanda lebih banyak dari pada komunitas diluar itu.
Bahasa Tana di desa-desa Islam
Pada hampir setiap desa Islam dimaluku penggunaan Bahasa Tana masih menjadi prioritas utama, bahasa melayu ambon hanya dipergunakan pada saat-saat mereka berbicara dengan orang-orang yang dianggap tidak mengerti dengan Bahasa Tana yang dipergunakan didesa tersebut, salah satu contoh di desa islam pada belahan selatan Pulau seram, desa-desa semacam Tehua, Moso, Laimu, Laha Islam, Tehoru, Haya, Tamilow, Sepa, dan lain-lain. dalam percakapan sehari-hari mereka masih tetap menggunakan Bahasa Tana sehingga regenerasi Bahasa Tana tersebut masih tetap terjaga sampai sekarang. Akan tetapi setahu saya, di desa-desa tersebut bahasa yang mereka pergunakan dianggap bukan Bahasa Tana, Bahasa Tana bagi mereka adalah bahasa yang dipergunakan oleh orang gunung (suku terasing yang berdomisili dihutan-hutan) sedangkan bahasa yg mereka pergunakan disebut sesuai dengan nama desanya yakni bahasa laimu, bahasa tehua, haya dsb.
Seperti di desa Laimu, penggunaan Bahasa Tana ini menjadi semacam keharusan bagi pemuda-pemuda untuk berkomunikasi dengan orang-orang tua mereka, dan penggunaan Bahasa Tana ini tidak saja mereka pergunakan pada waktu mereka berada didesa tersebut saja, akan tetapi sampai di Ambon bahkan jakarta pada waktu mereka bertemu dengan sesama warga desa maka bahasa yang mereka pergunakan dalam komunikasi adalah Bahasa Tana, ungkapan “palaow, khabare na saim?” sebagai ungkapan pertama dalam bertemu atau indonya “halo, gimana kabarnya” masih terus dipergunakan. atau plesetan-plesetan bahasa tana logat jakarta “saim sih??” ada apa sih. :mrgreen: Saya ingat ketika pada waktu masih di ambon, bersama dua orang teman yang yang kuliah disana jga sempat menyusun kamus Bahasa Tana Laimu, dengan contoh cara penggunaannya dalam kalimat sebagian yang kami susun adalah sebagai berikut.
Contoh Bahasa Tana di desa Laimu
No
Bahasa Tana
Indonesia
Bahasa Tana
Indonesia
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
San
Lua
Toi
Vae
Rima
Noe
Vitu
Waju
Siwa
Hutu
Hutusan elansan
Hutu lua
Hutulua elansan
Yauw
Yale
Ae
Kai
Manawa
Hihina
Waelo
Lawa
Holahae
Saka
Moki
Putu
Lahito
Taka
kako
ian
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
20
21
Saya
Kamu
Makan
Pergi
Laki-Laki
Perempuan
Air
Lari
Buang
Jaga
Dingin
Panas
Baju
Celana
Lihat
ikan
Mahale
Mauma
Lalau
Manlia
Opatan
Lotomina
Halimuli
Uma
ela
anan
Ohaya
Yai
Lasa
Milim
Ohita
Lipia
Tita
Asana
Palaow
Saim
Sa’i
Ujum
Uvan
Ahiyan
Okue
Sopayano
Musupuru
taho
pangkara
Bawah/Barat
Atas/Timur
Laut/Selatan
Darat/Utara
Menangis
Depan
Belakang
Rumah
Besar
Kecil
Pikul
Kayu
Babat
Kebun
Potong
Sagu
Jalan
Pikul
Bagaimana
Apa
Dayung
Kepala
Wajah
Jelek
Duduk
Sholat
Mengaji
tau
singkong
Contoh penggunanan Bahasa Tana desa Laimu
“he o kako, o kako mahale ka iano oto le” artinya : eh lihat, lihat ke barat ikan banyak sekali”
“o kai lio?” a kai milim, ka a hita lipia a” artinya : mau kemana? aku mau ke kebun, hendak tebang pohon sagu dulu”
Ada ungkapan-ungkapan Bahasa Tana yang mempunyai arti yang berbeda apabila disambung dengan bahasa sehari-hari. selain itu juga kata-kata tambahan seperti “o, e, le, ka, dan lain-lain kadang membuat bingung juga. atau kalo datang ke ambon dan pingin mengerti bahasa tersebut digunakan bisa ikut dengan saya untuk melihat dan mendengar bagaimana sih bahasa tana yang dipergunakan sehari-hari itu.

update bahasa tana:

Lagu Gandong Dalam Bahasa Hitu.
GANDONG [Melayu Ambon]
Gandong Lamari Gandong Mari Jua Ale oooo
Beta mau bilang Ale katong dua satu gandong
Hidup ade deng kaka sungguh manis lawange
Ale rasa Beta rasa katong dua satu gandong
Gandong nge.. sio Gandong nge..
Mari beta gendong, beta gendong Ale jua
Katong dua Cuma satu Gandonge
Satu Hati satu Jantonge
Traslet Lagu Gandong dalam Bahasa Hitu Sekarang
GANDONG (LAHAT)
Gandong La Mai Gandong Mai Lo’oi Gandong nge….
Lo’oi yau atahia ite lua esai gandong
Hidup ku walia’a tolo moso-moso… E
Ale rasa yau rasa ite lua esai gandong
Gandong sio Gandong nge
Mai yau hahiti, yau hahiti Ale Uma
Ite lua cuma walia,a e…..
Lahat Esai, Esai Jantonge
———————————————–
TERJEMAHAN BASMALAH, SURAT AL-FATIHAH & SYAHADAT DALAM BAHASA TELUTI
(Bahasa yang dipertuturkan dari Desa Poling di Kecamatan Werinama hingga Haya, memiliki kesamaan dengan bahasa2 di Seram & Lease)
Oleh: DR. H. ABDURRAHIM YAPONO, MA., M.Sc.
Basmalah:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَحِيْم
“Tiya Aupu Allah TA’ALA nayan, Epa’a poloko Ela,
Epa’a kasihani Ela”
Tafsir: Sei ne e’ae ke, ese’e waelo asun ke, ekarja sa niya, ehen musti na ebaca Aupu Ta’Allah nayan, (kae Ehen no) Epa’a Poloko Ela, Epa’a kasihani Ela. Iko mansia’in le, na ipina sa nia, musti ibaca nayan, kane isupu Niwei barakati. Kalu ni elepa nayan taho le, na kukuwei pakarjaan taho’n supu barakati Heiliye Aupu Ta’Allah. Aupu Nabi Elepa, “Sei ne epina pakarjaan sa nia (pakarjaan halal), kalo ne ebaca Aupu Ta’Allah nayan taho le na saka ni pakarjaan kupaeti, ka’i ahiya.”
Al-Fatihah:
1. Tiya Aupu Allah Ta’la nayan, Epa’a poloko Ela, Epa’a kasihani Ela.
2. Sewwe puji-puji woo awe’e Aupu Allah, Aupu tuniai-akhirati sewe’eti.
3. Epa’a poloko Ela, Epa’a kasihani Ela
4. Aiya akherati (ekuwe’e balasan awe’e Ni hambalu sewe’esi)
5. Awe’eo nom nia amsopa, lau’um Yale nomnia am panuae bantuan
6. Otunjuki awe’ema la’atina susu’suo
7. La’atina ehen sim na okuwe’e nikmati awe’esi le; bukan na la’atina ehen sim na omurka kaesi le; tiyae bukan ehesim na la’atina mutu kaesi le.
Dua Kalimat Syahadat:
“Yau abersaksi bahwa tuhan ta ehen san taho melainkan Aupu Ta’Allah, tiya nabi Muhammad no utusan Aupu Ta’Allah.”
بسم الله الرحمن الرحيم
“Tiya Aupu Allah Ta’ala nayan, Epa’a poloko ela, Epa’a kasihani ela”
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ (6)
1. Olepa! “Yau aberlindung suwe’e Sopa-sopa (Tuhan) Mansia,
2. Ayya mansia,
3. Sopa-sopa mansia,
4. Hailiye kajahatang (pa’unuwe) setan nepahunuwei le
5. Nepa’unuwe kajahatang laum hutuwa mansia
6. Na ni asale hailiye kolompok jin tiya mansia le.”
Surah Al-Falaq: Madaniyah Surat ke-113
“Tiya Aupu Ta’Allah nayan, Epa’a poloko ela, Epa’a kasihani ela”
1. Olepa! “Yau aberlindung suwe’e Aupu Sopa-sopa (Tuhan) na ekuasai ka subuh (fajar) le.
2. Hailiye kajahatang (makhluk) na eciptakan le
3. Tiya hailiye kajahatang potu-potu na pakimolo nia le
4. Tiya hailiye kajahatang (hihina) mofunolu na inhulo laum buhul-buhul (nuwei tali kekeneto) le
5. Tiya hailiye kajahatang mansia sin na inpa’alana ela le.
Surat Al-Ikhlash, Makiyyah, Surat ke-112. 4 ayat.
“Tiya Aupu Ta’Allah nayan, Epa’a poloko ela, Epa’a kasihani ela”
1. Olepa (wahai Muhammad), “Ehen Aupu Allah Ta’ala mesele’imo”
2. Aupu Allah Ta’ala, Tuhan na sewwe sa nia in bergantung hailiyei
3. Aupu Allah Ta’Allah taho na elayyana anao, tiya taho na yain san ne elayyanaei.
4. Aupu Allah Ta’ala (I’isamoi) ya’iin san taho na elaiyei.
Surat Al-Lahab (Yafu Welu)
“Tiya Aupu Allah Ta’ala nayan, Epa’a poloko ela, Epa’a kasihani ela”
1. Hancur binasa Abu Lahab ni liman lualu tiyae memang ehen saka ebinasa kaei teliye.
2. Ni hartalu taho na berguna awei tiyae kokolao ni usaha sa nia taho na eberguna awei
3. Saka (laum akhirati) na enusu laum yafu wewelun
4. Tiya ni pinantua painon niya le’e kae ekakae yai papamasa le (elalawai fitnah)
5. Elosuwe rante besi wewelun laum totolon ya’in.
Surat Al-Nashr (Bantuan)
“Tiya Aupu Allah Ta’ala nayan, Epa’a poloko ela, Epa’a kasihani ela”
1. Pinaa bantuan Allah lapie tiyae kemenangan
2. Saka okako mansia innusu agama Aupu Allah Ta’ala rombongan rombongan
3. Na otasbih tiya opuji Aupu Tuhan na ela, tiyae omohon ma’afu laum hailiyei. Kokolao Ehen Epa’a tarima tobat (ma’afu) ela.
Surat Al-Kafirun (Kafilolu)
“Tiya Aupu Allah Ta’ala nayan, Epa’a poloko ela, Epa’a kasihani ela”
1. Olepa!, “Hei kafilolu”
2. Yau taho mungkin na asopa sai’isim na yem umsopa le
3. Tiyae yem taho mungkin umjadi pa’asopa Aupu Allah Ta’ala na asopai le
4. Tiyae yau taho pernah ajadi ma’asopa saisim na yem sopa le
5. Tiyae yem taho mungkin umjadi pa’asopa Aupu Allah Ta’ala na asopai le
6. Awe’em yemmei agama, tiya awe’u le’e ya’uwei agama (san-san tiya nuwei agama).
Surat AL-Kautsar (Waelo Hatan Laum Syurga)
“Tiya Aupu Allah Ta’ala nayan, Epa’a poloko ela, Epa’a kasihani ela”
1. Kokolao Yam akuwe’e we’em waelo hatan san laum syurga
2. Na umsopaiyano kae Aupu Allah Ta’ala tiyae umberkorban
3. Kokolao mansia sim na impa’alana ka’eo le na ti’isi (insupu rahmati tiya barakati Aupu Allah Ta’ala taho).
Surat Al-Ma’un (Barang-barang yang berguna)
“Tiya Aupu Allah Ta’ala nayan, Epa’a poloko ela, Epa’a kasihani ela”
1. Okekewa ke taho mansia sim na impa’akale agama le?
2. Hensi sim na impalamana kae ma’uwo yatimulu le
3. Tiya taho na insulei mansia kana inkuwe’e a’aelo awei ma’uwo yatimulu le
4. Na celakalah awe’e ehen sim na insopaiyano le,
5. (Yaitu) mansia sim na inlalai ka ki sopaiyano,
6. Tiya ehensim na impina tanei tiya making puji le (riya- bukan karena pahala Allah)
7. Tiya imbo’u (na intuluni mansia) tiyae barang-barang berguna (la’i, awali, embere, dll).

ada juga beberapa bahasa tana yang saya ambil dari salah satu judul di blog ini "sejarah alifuru", bahasa2 tana yang dirangkum dalam kapata2 tua berikut bunyinya:
01. HENA MASA WAYA WAIYA LETE HUNI MU A O ", artinya :"Negeri di tempat-tempat kediaman kita yang tinggi diMU, siang malam tertimbun air".02. "YURI TASI BEA SALA NE KOTIKA O", artinya : "Biladiusut asal usul kita semua orang-tidak salah ketikaitu".03. "A OLEH RUMA O RUMA SINGGI SOPA O", artinya:"Rumah kita turun temurun bertingkat tinggi asli".04. "O PAUNE ITE KIBI RATU HIRA ROLI O", artinya :"Kita semua tanpa kecuali sama saja seperti Raja".05. "HENA MASA WAIYA LETE HUNI MU A O" artinya :"Negeri kita yang tinggi di MU siang hari malamtertimbun air".06. "YURI TASI BEA SALA NE KOTIKA O", artinya : "Biladiusut asal usul kita semua orang-tidak salah ketikaitu".07. "BUANG E MU LABUANG E !", artinya : "Labuh manatempat berlabuh di MU !".08. "HASA HASA PULU MU LABUANG", artinya :"Berlayarlah dekat dekat pantai pulau MU-jangan yangsatu jauh dari yang lain dibawa pimpinan yangtunggal".09. "TANJONG E TENGO TANJONG E", artinya : "Tanjong-edimana ada tanjong e"10. "HASA HASA SOKI TENGO TANJONG", artinya :"Berlayar dekat dekat pantai sedikit lagi sudahkelihatan tanjong".11. "WELE WELE YO YURI WELE WELE YO", artinya : "Yaombak-ombak ! kita semua diatas ombak".12. "YA YAKI HITI UMA LETE SOPU YO", artinya : "Yangmemecah terangkat tinggi setinggi rumah tinggi yangkita puja itu".13. "WAYA TUTU HITU O !", artinya : "Timbunan airmenutup tujuh rumah turun temurun yang asli o !".


Semoga bahasa Tanah Terus dikembangkan oleh anak anak muda berdarah maluku generasi sekarang ini hingga ke anak cucu kedepannya, Jangan malu menggunakan bahasa asli maluku,kita orang maluku kaya akan budaya dan Sejarah.potong di kuku rasa di daging!Loa Nusa Hiti Nusa,Solo Hua eee Maun eeel.

4 komentar:

Pierre Adelaar mengatakan...

kutipan pertama di atas,.. bukan bahasa tanah secara lengkap! kepeng adalah bahasa melayu ambon, bahasa tana nya adalah "Pisi", btw sepertinya bahas di atas lebih mengarah ke bahasa teluti,.. di maluku tengah sebenarnya banyak klasifikasi bahasa, contoh yg paleng jelas adalah pembedaan bahasa alune dan waemale..

Julian Soplanit mengatakan...

mantap bung thx sudah diperbaiki tolong ditambahkan atau dirubah jika ada kekurangan bung :) terbatas media maka seadanya saja tulisan ini beta ambel,advice2 luar biasa dari gandong dong biking sejarah ini makin berkembang buat katorang samua.lawamena haulala,maluku persatuan.

Hormat

makaruku mengatakan...

bung...transletan lagu gandong itu pake bahasa apa bung???
Alune ya bung??

Frendy Laisina mengatakan...

dalam daftar kata dalam bahasa tanah di atas tidak semua sama dengan artinya dengan negeri-negeri adat lain !!! dan tidak semua desa/negeri kristen bahasa tanah telah punah ... contoh, desa hulaliu bukan cuma bahasa tanah digunakan orang tua namun anak kecil pun sering menggunakan bahasa tanah dalam komunikasi sehari-hari
.

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Berdasarkan kecintaan akan tanah kelahiran dan dengan mengumpulkan tulisan dari berbagai sumber, Blog sederhana ini saya buat.Saya berharap Blog ini bisa memberi informasi mengenai Sejarah dan Budaya Maluku kepada pembaca. Jika ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. TAVEA : -SEI HALE HATU HATU LISA PEI , SEI LESI SOU SOU LESI EI ! MENA MURIA! -KAPITAN MERAH- Son Of Alifuru

remember your roots

remember your roots
 
© Copyright 2035 Son Of Alifuru
Theme by Yusuf Fikri