Jumat, 08 Juli 2011

SEJARAH TERBENTUKNYA NEGERI LATUHALAT

SEJARAH TERBENTUKNYA NEGERI LATUHALAT

Nusaniwe

Dahulu negeri-negeri di semenanjung Nusaniwe berada dalam suatu persekutuan yang disebut Uli Nusaniwe. Uli ini dipimpin oleh seorang raja bergelar Lopulalan. Selain raja Lopulalan terdapat juga pemimimpin lain dalam Uli Nusaniwe sehingga membentuk Pemerintahan Empat Perdana Nusaniwe dengan Uku/Soa (kampung) yang dipimpinnya sebagai berikut :
1.Ukuhener di sekitar bukit Amanila dipimpin oleh seorang Raja dari Tuban bergelar Lopulalan
2.Ukuhuri di sekitar labuhan Namalatu dipimpin Orang Kaya dari Seram bergelar Latuhalat
3.Seilale di sekitar dataran Namasula dipimpin oleh seorang Patih dari Gorom bergelar Pattinai
4.Soapapala di sekitar tanjung Nusaniwe dipimpin seorang Kapitan dari Luhu bergelar Risakotta.
Ketika Imperialisme barat menanamkan kekuasaanya di Ambon, kekuasan Lopulalan sebagai penguasa Uli Nusaniwe mulai melemah dan negeri-negeri bawahannya mulai melepaskan diri membentuk pemerintahan otonom. Negeri Seilale melepaskan diri dan membentuk negeri Seilale dipimpin oleh Raja Loppies (nama baptis Pattinai) dengan gelar Upu Latu pattinaelai. Sedangkan Ukuhuri dan Soapapala (sekarang : Waimahu, ) membentuk suatu pemerintahan dalam negeri Latuhalat dipimpin oleh Raja Salhuteru (nama sebenarnya Latuhalat) dengan gelar Upu Latu Jorusana. Meskipun demikian Seilale dan Ukuhuri-Soapapala tetap berada dalam suatu petuanan yang lazim disebut petuanan Silalatu [Hal ini dilatarbelakangi Cerita Kenari Bongko]. Dengan terbentuknya negeri Seilale dan Latuhalat, maka negeri Nusaniwe hanya meliputi Ukuhener ( sekarang : Airlouw), Erie dan sebuah kampung kecil di selatan yang disebut Hatiari (=Pintu Kota) dipimpin oleh Raja de Soiza (nama baptis Lopulalan) dengan gelar Upu Latu Waihenna.

LATUHALAT, RAJA DIBAGIAN BARAT

Latuhalat (Vorst van westen, “ Raja di bagian Barat ”) adalah gelar yang dipakai oleh Upu Latu Jorusana dalam menjalankan pemerintahan pada negeri Ukuhuri - Soapapala. Nama sebenarnya raja ini adalah Lasanteru (= Tiga insan) yang kemudian berubah menjadi Salhuteru. Nama Latuhalat pada dasarnya mengacu pada letak negeri ini yakni pada ujung barat jazirah Leitimor. Pada masa kejayaan negeri Nusaniwe di jazirah Leitimor, raja Latuhalat berada dibawah pengaruh negeri ini dan hanya berkuasa sebagai orang kaya (gelar pemimpin) pada sebuah perkampungan (uku) yang disebut Ukuhuri (= Kampung tandus). Raja Latuhalat berdiam di perbukitan sekitar pantai Namalatu yang disebut Sama Tohi. Selama masa pemerintahannya di Ukuhuri, raja Latuhalat menjalin hubungan kekerabatan (sejenis Pela) dengan Raja Lopulalan di negeri Ukuhener (Nusaniwe). Ukuhuri mewakili unsur perempuan sedangkan Ukuhener mewakili unsur lelaki [Hubungan ini terbentuk jauh sebelum adanya Pela Latuhalat–Allang, dan Nusaniwe – Hatiwe besar]. Dengan melemahnya kekuasaan Nusaniwe, kampung Ukuhuri dan soapapala bergabung dan diperintah oleh raja Latuhalat. Kampung (soa) Papala sebelumnya dikuasai oleh seorang kapitan dari Luhu bernama Lisakotta atau Risakota. Ketenaran dan kesaktian raja Latuhalat di jazirah Leitimor pada masa itu menyebabkan namanya sangat terkenal sehingga negeri Ukuhuri -Papala yang dipimpinnnya sering disebut sebagai Negeri Latuhalat. Raja Latuhalat selanjutnya menggunakan nama sebenarnya, Salhuteru dalam menjalankan pemerintahannya. Raja pertama di negeri Latuhalat adalah Pautuselang Salhuteru kemudian diganti oleh putranya Pattikiring Salhuteru. Selanjutnya Raja yang ketiga adalah Latumanona Salhuteru. Dalam masa pemerintahannya, Salhuteru dibantu oleh dewan saniri negeri.

HIKAYAT NEGERI LATUHALAT
1. KAMPUNG BANJIR
Di ujung barat jazirah Leitimor yang banyak ditumbuhi pohon kelapa, datanglah seorang kapitan dari Tuban yang mendirikan Negeri Nusaniwe ( = Pulau kelapa ). Pada mulanya kapitan ini berdiam di sebuah kampung kecil yang jarang ditumbuhi pepohonan sehingga disebut Eri ( = gundul ). Dengan menggunakan parang, kapitan ini membuat sebuah jalan ke selatan dan mendirikan sebuah perkampungan (uku 1) yang sering dilanda banjir sehingga disebut Ukuhener ( = Kampung banjir ). Atas usahanya, maka kapitan Tuban ini dijuluki Lopulalan ( Lopu = parang ; Lalan = jalan ) yang menurunkan matarumah raja di negeri Nusaniwe. Lopulalan kemudian menjadikan Ukuhener sebagai pusat kekuasaannya sehingga ia juga dijuluki Latuwaihenna (= Raja di negeri berair ). Lopulalan menanamkan kekuasaan tunggalnya di negeri Nusaniwe hingga kedatangan bangsa barat ke pulau Ambon, dimana pada tahun 1538 salah seorang keturunanya yang bernama Sinapati dipermandikan dengan nama baptis de Soiza yang merupakan raja Kristen pertama di Jazirah Leitimor.

2. SUMUR KERAMAT
Kampung Ukuhener banyak ditumbuhi pohon sagu sehingga persediaan air dikampung tersebut selalu melimpah. Meskipun demikian, penduduk yang berdiam di kampung ini tidak mengetahui bahwa air yang melimpah di kampung mereka sebenarnya bersumber dari pohon – pohon sagu tersebut. Mereka menganggap sagu sebagai tanaman berduri yang tidak bermanfaat dan memilih hidup dengan mengolah tanaman lain. Di samping itu mereka tidak mengetahui cara mengolah tanaman tersebut. Karena itu, mereka menebang dan mengutuk pohon – pohon sagu yang ada di kampung mereka. Akibat kutukan tersebut, maka air yang melimpah di Ukuhener mengalir dan berpindah tempat ke sebuah perkampungan ( uku ) yang sebelumnya sangat sulit untuk mendapatkan air sehingga disebut Ukuhuri (= Kampung tandus), sedangkan pohon – pohon sagu yang berada di Ukuhener berpindah tempat ke negeri Rutong dan Leahari. Akibat peristiwa ini, maka penduduk Ukuhener sulit untuk mendapatkan air. Air di Ukuhener memiliki rasa yang tidak enak bila disimpan terlalu lama dan hanya bersumber dari sebuah sumur tua di dekat pantai bernama Waihokar. Mata air ini digunakan penduduk Ukuhener sebagai sumber air minum. Keadaan ini menyebabkan penduduk Ukuhener berusaha mencari sumber air sehingga kelak kampung Ukuhener lebih dikenal dengan sebutan Airlouw ( = Mencari air ).
3. BULU PEMALI

Selainkapitan Lopulalan, terdapat pula serombongan orang penyembah langit (Hemelaanbidders) yang berjalan sambil menimbang tanah. Jika tanah yang ditemukan mereka seimbang dengan tanah yang dibawa mereka, maka mereka menetap di tempat tersebut. Mereka dikenal sebagai orang – orang tangguh yang suka berperang dan bersembahyang di bawah terik matahari. Sebagian dari mereka menetap di negeri Amahusu yang menurunkan matarumah Soplanit (= Sapu Langit ) dan sebagian lagi menetap di kampung Ukuhuri dan sebuah perkampungan (soa 2 ) di ujung barat jazirah Leitimor yang bernama Soapapala [kelak bernama Waimahu : nama sebuah mata air di kampung ini] sebagai penduduk pertama di kedua kampung tersebut. Suatu ketika langit ditutupi awan yang tebal. Orang – orang penyembah langit yang berdiam di Ukuhuri dan Soapapala merencanakan untuk membersihkan awan tersebut dengan berjalan sambil mendorong dengan menggunakan beberapa potong bambu yang telah disambung. Ketika rencana tersebut dijalankan, bambu yang digunakan mereka patah dan jatuh menimpa sebuah pohon mangga pau. Patahan bambu tersebut kemudian menjelma menjadi serumpun pohon bambu di ujung tanjung Nusaniwe yang oleh penduduk setempat disebut Bulu Pemali. [Daun – daun bambu ini tidak jatuh di tanah tetapi menuju ke dua pulau kecil di laut Banda yakni Pulau Penyu dan Lucipara]. Akibat peristiwa ini, maka rombongan penyembah langit di Ukuhuri dan Soapapala dijuluki Paupeealanit (Pau = sejenis mangga ; Peea = berjalan mendorong ; Lanit = langit ). Rombongan Paupeealanit selanjutnya mendirikan tiga benteng pertahanan yaitu Amanlanite (3) ( = Negeri/kota langit ), Hatuhulan ( =Batu/kota bulan) dan Kotabelo ( = Kota sumpah ). Benteng Amanlanite dipimpin oleh seorang kapitan bernama Bontuwawa di Ukuhuri, sedangkan benteng Kotabelo dipimpin oleh seorang kapitan bernama Latu Lekar di Soapapala.

4. BATU PERAHU
kepulauan Banda terdapat sebuah pemerintahan bernama petuanan Rum yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Sahulau di pulau Seram. Petuanan ini dikuasai oleh seorang latupatih yang berkedudukan di ibukota Lautaka. Karena pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, maka Latupatih memerintahkan sebagian penduduknya berpindah ke pulau Jawa di bawah pimpinan puteranya yang sangat sakti dan memiliki kulit agak gelap sehingga dijuluki Latumeten ( = Raja hitam ). Rombongan dari petuanan Rum selanjutnya menetap di pulau Jawa, tepatnya di kerajaan Kahuripan. Pada waktu pengaruh Islam masuk ke pulau Jawa, rombongan Latumeten menolak ajaran tersebut dan memutuskan untuk kembali ke tanah asal mereka di kerajaan Sahulau. Rombongan Latumeten kemudian meninggalkan pulau Jawa menuju ke pulau Seram dan singgah di Waeputih (belakang tanjung Sial/Hoamual). Setelah melalui Hatusua, rombongan melanjutkan perjalanan ke pulau Ambon dan singgah di negeri Ureng. Setelah melalui beberapa negeri di pulau Ambon seperti Rumahtiga, Passo, Hutumuri, Suli, Halong dan Soya, mereka akhirnya singgah di pantai Ukuhuri, tepatnya di sebuah labuhan yanmg bernama Malulang, dimana perahu yang mereka tumpangi menjelma menjadi sebuah batu yang disebut Hatuhoat (= Batu perahu ). Perjalanan rombongan Latumeten dari suatu tempat ke tempat lain menyebabkan mereka dijuluki Tarinusa ( = Cari pulau ). Konon rombongan Latumeten dipimpin oleh seorang kapitan bernama Sakitawan. Di dalam rombongan tersebut terdapat seorang kapitan lain bernama Sulaiman. Kapitan ini memiliki warna kulit agak terang sehingga dijuluki Latuputty ( = Raja putih ). [Sumber lain bahwa Latuputty berhubungan saudara dengan Latupapua dari negeri Kilang]. Rombongan Latumeten kemudian mendirikan sebuah perkampungan yang bernama Tupa, tepatnya di suatu aliran air yang disebut Wairissa (= Air permusuhan) sambil mengintip kapitan Bontuwawa di benteng Amanlanite. Di tempat inilah mereka menetap dan menurunkan matarumah Latumeten hingga saat ini. Beberapa hari kemudian datanglah seorang kapitan Seram dari Hoamual dengan menggunakan sebuah gusepa/perahu yang bernama Lessy dengan gelar Satumalay. Sebelum melakukan perjalanan ke Tupa, kapitan ini berlayar dengan menggunakan buah hutung sehingga pada lahuhan tempat singgahnya tumbuh sebuah pohon hutung hingga saat ini. Kapitan Latumeten kemudian mengangkat Lessy sebagai anak angkatnya untuk melakukan perlawanan terhadap orang – orang Paupeealanit di benteng Amanlanite.

5. POHON KEKER

Sementara itu di Soapapala telah datang seorang kapitan Seram dari Luhu, Hoamual yang menurunkan matarumah Risakotta ( = Kota permusuhan ) dan seorang kapitan lain dari kepulauan Sula di Maluku Utara sehingga dijuluki Tuhusula. Kapitan Tuhusula berlayar dengan menggunakan sehelai daun pandan/keker dan singgah di pulau Manipa. Di tempat ini, kapitan Tuhusula mencari ikan sebagai bekal dalam perjalanan dan menemukan sejenis ikan bernama Sapalewani. Kapitan Tuhusula kemudian membuat sebuah perahu yang tiang dan layarnya terbuat dari kayu rina dan daun bira ( sebutan untuk kayu dan daun pohon keker) dan berlayar ke Soapapala tepatnya di sebuah labuhan bernama Umeten ( = Pantai hitam ). Di tempat inilah pohon keker yang digunakan oleh kapitan Tuhusula untuk membuat perahu tumbuh di labuhan ini. Akibat peristiwa ini, maka ikan Sapalewani dan pohon keker dianggap sebagai pantangan/posso bagi matarumah Tuhusula. Pantai Umeten terletak dekat ujung Tanjung Nusaniwe sehingga kapitan ini dipercayakan sebagai Tuan Tanjung hingga saat ini.

6. PULE CAP

Kapitan Risakota dari Soapapala kemudian menjalin hubungan dengan kapitan Latumeten di Ukuhuri untuk bersama – sama melakukan perlawanan terhadap orang – orang Paupeealanit dibantu oleh kapitan – kapitan lain yang telah berada di kedua kampung tersebut. Dalam perlawanan tersebut kapitan Latumeten berhasil memenggal kepala kapitan Amanlanite, Bontuwawa diikuti dengan jatuhnya benteng Kotabelo ke tangan kapitan Risakotta. Kepala Bontuwawa kemudian menjelma menjadi seekor burung dan terbang menuju sebuah pohon di kampung Eri yang bernama Pule Cap. Di tempat inilah kepala tersebut menjelma menjadi sebuah batu. [Peristiwa ini menyebabkan kelak tempat ini ditetapkan sebagai perbatasan negeri Nusaniwe– Urimesseng]. Orang – orang Paupeealanit yang berada di Ukuhuri dan Soapapala kemudian menetap di kampung Eri dan nama mereka diperpendek menjadi Peea. Dengan penaklukan orang – orang Paupeealanit sebagai penduduk pertama di negeri Ukuhuri dan Soapapala, maka untuk sementara kedua kampung tersebut masing-masing dikuasai oleh kapitan Latumeten dan Risakotta hingga kedatangan bangsa barat ke pulau Ambon.

7. UANG BESI

Pada waktu kedatangan bangsa Portugis di Ukuhuri, salah seorang anak perempuan dari keturunan Latumeten dipinang oleh seorang sedadu Portugis dengan bayaran harta berupa Ijzeren Dukaton (4) (sejenis uang Belanda) yang terbuat dari besi. Bayaran harta tersebut menyebabkan kedua mempelai dijuluki Dukatonbessy yang dalam perkembangan selanjutnya berubah menjadi Lekatompessy. Peristiwa ini menyebabkan matarumah Lekatompessy menggunakan Tarinusa (gelar matarumah Latumeten) sebagai gelar/Teon bagi matarumahnya.

8. GELANG EMAS

Dari pulau Bali datanglah tujuh kapitan bersaudara yang melakukan perjalanan ke arah timur. Dalam perjalanan tersebut salah seorang di antara mereka yakni saudara bungsu menjelma menjadi seekor belut/morea dengan memakai sebuah gelang emas. Peristiwa ini menyebabkan keenam saudaranya menganggap morea sebagai hewan pantangan bagi matarumah mereka. Keenam kapitan tersebut singgah di pantai Seri, negeri Urimesseng dan menggali sebuah liang sebagai tempat persembunyian mereka sambil mengintip seorang kapitan Paupeealanit bernama Latu Nahil yang telah menguasai tempat tersebut. Peristiwa ini menyebabkan keenam kapitan ini dijuluki Mata – mata ( = Pengintip). Julukan ini kelak diperpendek menjadi Mata-ata yang digunakan sebagai teon bagi keturunan keenam bersaudara ini. Ketika Latu Nahil mendekati tempat pesembunyian mereka, ia dikepung dan dengan mudah ditaklukan oleh enam bersaudara ini. Keenam saudara tersebut adalah Akipu dan Huniake yang tidak memiliki keturunan, Hehareu di negeri Kilang, Mainake di Negeri Amahusu serta Narua dan Tuhumuri (Muri = Belakang)yang berdiam di Ukuhuri dan Soapapala.

9. PEREKAT SAKTI

Di negeri Kaibobo hidup seorang kapitan bernama Laicat Mahaili dengan seorang perempuan yang adalah saudaranya. Mereka sebenarnya berasal dari sebuah tempat bernama Kamukalawae (?). Keduanya melakukan perjalanan ke pulau Ambon dan menetap di hutan belakang negeri Hatiwe. Di tempat ini mereka bertemu dengan seorang kapitan Hatiwe yang tidak senang dengan kedatangan mereka bernama Bolebrani. Bolebrani kemudian melakukan perkelahian dengan Licat Mahaili. Dalam perkelahian tersebut Laicat Mahaili dibantu oleh saudara perempuannya dengan menaburkan buah gondal dan buah/dedaunan lain yang mengandung perekat di depan kaki Bolebrani untuk menghambat pergerakan kapitan Hatiwe tersebut. Akhirnya Laicat Mahaili dapat memenangkan perkelahian tersebut dan mengubah namanya menjadi Laicatamu yang menurunkan matarumah Lestamu di negeri Hatiwe Besar sedangkan saudara perempuannya menuju ke Ukuhuri. Pada waktu tiba di Ukuhuri, saudara perempuan Laicat Mahaili bersembunyi karena takut kapitan Latumeten yang telah menguasai tempat tersebut hingga kadatangan Lasanteru dari Seram. Peristiwa ini menyebabkan saudara perempuan Laicat Mahaili dijuluki Latuhihin (= Raja sembunyi) di Ukuhuri dan Soapapala.

10. BATU BICARA

Pada awal abad ke -16 datanglah seorang kapitan Seram yang sangat kuat dari Tanjung Sial bernama Lasanteru (= Tiga insan). Ia datang ke Ukuhuri dan singgah di sebuah labuhan yang disebut Namalatu ( = Labuhan Raja). Lasanteru bertemu dengan lima kapitan yang telah mendahuluinya yakni Oppier (Soa Latu), Lekatompessy (Soa Tomahuat), Latumeten (Soa Tehuwani), Risakotta (Soa Papala) serta Narua (Soa Tutuwarong) dan melakukan perundingan pada suatu tempat bernama Hatulebesou ( = Batu Bicara ). Dalam pertemuan tersebut Lasanteru dipilih menjadi pemimpin semua kapitan di Ukuhuri dengan gelar Latuhalat (= Raja di Bagian Barat ), sedangkan Latumeten hanya memimpin kampung Tupa yang didirikannya. Lasanteru selanjutnya mengangkat Oppier bersama Latumeten sebagai malessy (ondelbevelhebbers)-nya untuk berperang guna melepaskan diri dari pengaruh negeri Nusaniwe. Lasanteru kemudian membangun sebuah benteng pertahanan yang bernama Benteng Lebe yang terletak pada suatu tempat agak ke bukit dari pantai Namalatu yang disebut Sama Tohi. Di tempat ini Lasanteru menetap dan namanya diubah menjadi Salhuteru dengan gelar Upu Latu Jorusana yang kelak menurunkan matarumah raja di negeri Latuhalat.

11. PULAU PENYU

Ketika mendengar Lasanteru dipilih menjadi pepimpin semua kapitan di Ukuhuri, kapitan Latumeten menjadi gusar dan menendang beberapa batu di pantai Namalatu kearah laut. Batu – batu tersebut kemudian terapung dan menjelma menjadi dua buah pulau di perairan laut Banda yakni Pulau Penyu dan Lucipara. Pada waktu orang – orang Binongko (Sulawesi Tenggara) menemukan kedua pulau tersebut, mereka datang ke Tanjung Nusaniwe, tepatnya di bawah Bulu Pemali dengan membawa seekor ayam putih dan ramuan sirih – pinang untuk memohon ijin mencari penyu di kedua pulau tersebut.

12. KENARI BONGKO

Pada waktu Salhuteru memerintah di Ukuhuri, kapitan negeri Seilale yang berasal dari Gorom bernama Pattinaelai (kelak dipermandikan dengan nama Loppies sebagai Raja Seilale) ditawan oleh kapitan matarumah Laukon bernama Nakutulaisou di negeri Kilang. Pattinaelai kemudian dibebaskan kebali ke negeri Seilale oleh seorang kapitan Seilale lainnya bernama Hurihatur (Kapitan matarumah Kailola). Hurihatur adalah tukang sunat keturunan seorang seorang imam bernama Wahit di negeri Kailolo. Kapitan Nakutulaisou kemudian datang ke Ukuhuri dan Seilale untuk melakukan perlawanan dengan kapitan Hurihatur. Ketika mendengar bahwa kapitan Nakutulaisou memasuki daerah kekuasaannya untuk melakukan perlawanan, Salhuteru sangat marah dan berjanji akan memberikan anak gadisnya kepada kapitan yang dapat membawa kepala Nakutulaisou secara utuh kepadanya. Pada waktu tiba di semenanjung Nusaniwe, Nakutulaisou bertemu dengan kapitan Hurihatur yang sedang memanjat sebuah pohon kenari yang oleh penduduk setempat disebut Kenari Bongko. Nakutulaisou meminta kenari diberikan oleh Hurihatur, tetapi ketika Hurihatur meminta pinang, Nakutulaisou memberinya di ujung parang sambil menyerang Hurihatur. Dalam perkelahian tersebut, Hurihatur berhasil memenggal kepala Nakutulaisou dan memotong lidahnya.[Peristiwa ini menyebabkan matarumah Kailola dilarang menerima sesuatu dari matarumah Laukon]. Kepala tanpa lidah tersebut, kemudian ditemukan oleh seorang kapitan bernama Oppier dan membawanya kepada Salhuteru agar dapat mengawini anak gadis kapitan tersebut. Lasanteru kemudian mengawinkan anak gadisnya dengan kapitan Oppier, tetapi ketika perkawinan tersebut hendak dilangsungkan, datanglah kapitan Hurihatur dan menceritakan kejadian yang sebenarnya bahwa yang membunuh Nakutulaisou adalah Hurihatur dan kepala Nakutulaisou yang dibawa kapitan Oppier tidak utuh karena tidak memiliki lidah. Hurihatur menyindir kapitan Oppier dengan julukan Latu Seri Poppot (de vorst die Versot is op Vrouwelijke Schaamdeleen) yang dapat diartikan sebagai Kapitan ‘Mata‘ Perempuan. Gelar ini kemudian diperpendek menjadi Latusripa yang digunakan sebagai gelar matarumah Oppier hingga saat ini. Akibat peristiwa tersebut Lasanteru dari Ukuhuri (Kelak disebut Latuhalat) menjalin hubungan persaudaraan dengan kapitan Hurihatur (Matarumah Kailola) di negeri Seilale. Latar belakang inilah yang menyebabkan kedua negeri ini mengaku sebagai “ Negeri Kembar “ dan bersepakat untuk menetap dalam suatu petuanan hingga saat ini.

13. PAKU PAYUNG

Dari pulau Jawa datanglah beberapa kapitan yang menurunkan matarumah Mahulette (6). Dahulu daerah perbukitan semenanjung Nusaniwe banyak ditumbuhi alang – alang / ilalang. Leluhur matarumah ini menyangka alang – alang tersebut sebagai tanaman padi (tanaman pengenal suku Jawa) sehingga mereka menuju ke pantai utara semenanjung ini. Dalam perjalanan mereka membawa air yang diisi dalam ruas bambu dan sebuah payung untuk melindungi mereka dari terik matahari. Pada waktu singgah di semenanjung Nusaniwe, saudara mereka yang bungsu melanjutkan perjalanan ke Hitu. Sebelum berpisah mereka menanam bambu berisi air yang dibawa mereka Bambu berisi air tersebut kemudian menjelma menjadi sebuah mata air bernama Wewai di labuhan persinggahan mereka. Rombongan Mahulette kemudian melanjutkan perjalanan ke Ukuhuri dan Soapapala, sedangkan saudara mereka yang bungsu dengan menggunakan perahu berlayar menurunkan matarumah ini di bagian belakang jazirah Leihitu. Ketika rombongan ini tiba di pedalaman Ukuhuri mereka beristirahat dan melakukan makan bersama tetapi tidak menemukan sumber air. Payung yang dibawa mereka dalam perjalanan kemudian ditusuk ke dalam tanah dan mengalir sebuah mata air bernama Wermatan. Payung tersebut kemudian menjelma menjadi serumpun pohon paku berbentuk payung di sekitar mata air ini. Setelah melakukan makan bersama sebagian dari mereka melanjutkan perjalanan ke Soapapala. Kedatangan matarumah ini berhubungan dengan labah – labah sehingga mereka dijuluki Hahulawa.

14. GURITA AJAIB

Dari Hoamual di Seram Barat datanglah seorang kapitan bernama Tehupuring. Ia datang ke semenanjung Nusaniwe karena mematahkan salib emas raja negeri Iha. Tehupuring berlayar ke semenanjung Nusaniwe dengan menggunakan sebuah perahu. Dalam perjalanannya ia menangkap gurita sebagai bekal baginya. Karena tiupan angin, pelita yang digunakan sebagai penerang dalam perjalanannya padam sehingga gurita yang ditangkapnya berfugsi sebagai penerang hingga kapitan Hoamual ini tiba di negeri Seilale. Peristiwa ini menyebabkan matarumah Tehupuring menganggap gurita sebagai hewan pantangan bagi mereka. Ketika tiba di pantai Seilale, kapitan Tehupuring dikurung oleh beberapa anjing piaraan kepunyaan seorang kapitan yang telah berada di tempat tersebut bernama Mantulameten. Anjing – anjing tersebut menyambut kedatangan Tehupuring dengan membawa berbagai jenis makanan pada mulutnya. Ketika kapitan Mantulameten melihat kejadian tersebut, ia pergi dan hendak melakukan perlawanan dengan Tehupuring, tetapi ketika rencana tersebut hendak dilaksanakan datanglah Hurihatur (kapitan matarumah Kailola) dan mendamaikan keduanya. Tehupuring selanjutnya menetap di Seilale sebagai tukang baileo dan kepala rumah ibadat. Keturunannya sebagian menetap di Ukuhuri dan Soapapala.
15. TURUN TAHTA

Di kerajaan Ternate seringkali para bangsawan tidak betah dengan berbagai aturan dalam keraton. Bagi mereka lebih baik menjadi rakyat jelata daripada diatur dengan berbagai aturan. Keadaan ini mendorong dua bersaudara yakni Latuari dan Latukolan, anak seorang sangaji(7) Goga meninggalkan Ternate menuju ke semenanjung Nusaniwe dan singgah di labuhan Eri. Keadaan yang sama dialami oleh seorang sangaji bernama Suwebong Tumanega yang melarikan diri dari Ternate pada masa pemerintahan Gubernur Cransen. Kapitan lain yang juga berasal dari Ternate adalah Kapitan Angkotta [nama ini diberikan oleh raja Hitu]. Kedua kapitan ini menurunkan matarumah Singadji dan Angkotta dengan gelar adat yang sama.

16 . ANAK ANGKAT

Pada pertengahan abad ke-17, kompeni VOC menjalankan menopoli perdagangan rempah – rempah di Maluku. Untuk tujuan tersebut, maka dijalankan Pelayaran Hongi (Hongitochten) yaitu pelayaran untuk membasmi tanaman cengkih yang tidak termasuk dalam wilayah kekuasaan kompeni. Pada waktu itu di jazirah Leitimor belum banyak ditanami pohon cengkihsehingga kapitan – kapitan di daerah ini sering dimanfaatkan kompeni untuk menjalankan pelayaran tersebut. Tindakan ini dirasakan sangat merugikan masyarakat sehingga tidak disetujui oleh orang – orang Ternate yang sebagian besar berdiam di jazirah Hoamual, Seram Barat. Akibatnya dengan bantuan Makassar, Raja Luhu di Hoamual melakukan perlawanan terhadap kompeni dibantu kapitan – kapitan dari Leitimor yang disebut Perang Hoamual. Di antara kapitan yang membantu kompeni adalah Latumeten dan Angkotta dari semenanjung Nusaniwe. Dalam perlawanan tersebut raja beserta para kapitan Luhu berhasil dibunuh, kecuali Kapitan Leasa ( = Lessa (8)) dan Maulani. Kapitan Angkotta dan Latumeten selanjutnya mengambil Leasa dan Maulani masing – masing sebagai anak angkat mereka dan bersama – sama berdiam di semenanjung Nusaniwe. Matarumah Maulani memiliki hubungan saudara dengan matarumah Singkery sehingga keduanya menggunakan gelar matarumah yang sama.

17. PUTERA NUNUSAKU

Di pulau Seram terdapat sebuah kerajaan purba bangsa Alifuru yang berpusat pada sebuah pohon beringin (nunu) sehingga disebut Nunusaku. Kerajaan ini dialiri tiga aliran sungai yakni Tala, Etie dan Sapalewa. Di sekitar sungai Sapalewa terdapat suatu persekutuan adat di bawah pimpinan kapitan Pasanea dan saudara – saudaranya. Salah seorang saudaranya berlayar dan menurunkan matarumah Nampasnea di semenanjung Nusaniwe.

Keterangan :
1 & 2. Perkampungan yang berada dalam aman (=negeri)
3. Nama jalan utama di negeri Latuhalat
4. Sejenis uang belanda yang harganya sekitar 5 golden dan 3 sen
5. Sebutan untuk mengenang kejadian yang pernah dialami leluhur suatu matarumah
6. Sebutan untuk golongan tertinggi dalam stratifikasi masyarakat di Maluku Tengah
7. Jabatan dalam kesultanan Ternate yang mengatur bidang perdagangan
8. Tempat makan yang terbuat dari daun kelapa

1 komentar:

Ferymon Mahulette mengatakan...

Maaf bung..artikelnya menarik tapi sayang diplagiat dari artikel saya yang telah beredar di latuhalat sejak tahun 2002 dan diposting di blogg saya sejak tahun 2009..hargai karya orang lain dong..kelihatan tidak ilmiah bangat..

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Berdasarkan kecintaan akan tanah kelahiran dan dengan mengumpulkan tulisan dari berbagai sumber, Blog sederhana ini saya buat.Saya berharap Blog ini bisa memberi informasi mengenai Sejarah dan Budaya Maluku kepada pembaca. Jika ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. TAVEA : -SEI HALE HATU HATU LISA PEI , SEI LESI SOU SOU LESI EI ! MENA MURIA! -KAPITAN MERAH- Son Of Alifuru

remember your roots

remember your roots
 
© Copyright 2035 Son Of Alifuru
Theme by Yusuf Fikri