Senin, 26 Mei 2014

Sekilas Tentang Negeri KAIRATU



SEJARARAH NEGERI
Legenda didasarkan penuturan masyarakat di negeri Kairatu,Hatusua, Iohia Tala, dan kaibobu maupun Hunitetu bahwa leluhur mereka adalah orang-orang yang berasal dari NUNUSAKU dan ketika leluhur mereka keluar meninggalkan NUNUSAKU mereka keluar menuju gunung yang bernama Tansaleku atau Gunung Halia.

Mereka mendiami tempat ini tidak terlalu lama, kemudian berpindah ke gunung POPOTA (Loleba Laki-laki atau popote adalah sejenis bamboo yang digunakan untuk cucu atap  yang kemudian dijadikan atap rumah dan dari tempat ini mereka menuju air ALATUA atau tempat yang disebut Kalang latu (Kalang=Damar,dan Latu=Raja) dan kalang latu artinya terang raja lokasi ini kemudian dijadikan sebagai lokasi kediaman dari leluhur orang kairatu tempat ini sangat di keramatkan karena dianggap oleh orang Kairatu memiliki kesakralan
Cara mereka dating ketempat ini melalui proses jalan kaki, karena leluhur orang kairatu hidup mereka berpindah-pindah tempat tinggal (nomaden). Mereka terdiri dari satu marga yakni marga Ruspanah atau bunga kayu pana sejenis bunga dari pohon langsat hutan yang bunganya berwarna merah. Mata rumah ini memiliki 4 (empat) anak laki-laki  yang bernama Baralatu, Senenusa(lihat pulau), Ririmori(Tiang Pamali), dan Souputi. Anak tertua merupakan pewaris matarumah.

ASAL USUL KESUKUBANGSAAN
                Berdasrakan pengakuan dari masyarakat dan penuturan  Raja Negeri Kairatu bahwa asal usul dari leluhur mereka yaitu Nunusaku. Orang Kairatu termasuk dalam rumpun suku bangsa Alune.

 NAMA NEGERI KAIRATU
Negeri kairatu terdiri dari 2(dua) suku kata yakni Kaiyang artinya dengan dan Ratuyang artinya Raja.Jadi Kairatu artinya “Dengan Raja”.Maknanya  ketika masyrakat mendiami Negeri Kairatu berarti sudah dengan Rajanya.
Negeri Kairatu terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang menurut penuturan Raja Negeri Kairatu, setelah leluhur mereka keluar meninggalkan Nunusaku , mereka menjalani hidup berpindah-pindah, dan Negeri Kairatu yang mereka temapt sekarang merupakan negeri yang ke 15 Lokasi pemukiman tersebut antar lain : 1). Negeri pertama yang didiami oleh leluhur orang Kairatu yaitu bernama Alatua(terang Raja) . dikatakan terang Raja Karena mereka waktu memebakar penerang (obor) yang terbuat dari getah pohon Damar. Obor atau lampu ini ketika dibakar memberikan cahaya yang sangat terang, sehingga dinamakan terang raja; 2). Negeri kedua yang mereka diami yaitu bernama
Alatua tidak lama kemudian berpindah ke Negeri yang kedua bernama “lolam lasaului” yang artinya bunuh orang itu dan ambil kepalanya; 3). Setelah itu  mereka berpindah ke lokasi permukiman yang ketiga bernama “Tenin Sanute’’ artinya angin bambu. Makna dari tenin sanute yaitu, berdiri ditempat yang tinggi biar angin atau tidak ada angin, maka bamboo tetap bergoyang; 4). Mereka mendiami tempat ini juga tidak lama, kemudian berpindah lagi ke lokasi pemukiman yang berikut dan dinamakan “oba Matai”  artinya mata tempurung. Dinamakan mata tempura yaitu, ketika membelah buah kelapa akan kelihatan lobang; 5). Setelah itu mereka juga berpindah tempat tinggal yang kelima yaitu, “ Wai Batu” artinya air batu, atau air yang keluar dari batu. Tempat ini juga oleh orang kairatu sering dinamakan “Kai Batu”.; 6). Permukiman dari leluhur orang Kairatu di Wai Batu juga tidak lama, kemudian mereka berpndah ke lokasi pemukiman yang keenam bernama “Wampate Bubui” yang artinya ujung pohon Bacan. Jenis buah yang manis apabila sudah matang. Apabila buah bacan ini belum matang, maka terdapat banyak getahnya. Kalau dimakan maka mulut tampak hangus ibarat terbakar api; 7). Tempat bermukim ini juga tidak lama didiami oleh leluhur orang Kairatu, kemudian mereka berpindah ke lokasi bermukin yang ketujuh yang dinamakan “Ilewa”  atatu “Kakoya”.; 8). Setelah itu juga mereka berpindah untuk menempati lokasi bermukim yang kedelapan yaitu “Rumaela Bubui”  atau ujung Rumah Besar.; 9). Setelah itu berpindah juga kelokasi permukiman yang kesembilan yang dinamakan “Kepala Laroti”  artinya panggil dan jaga; 10). Tempat kediaman berikutnya atau tempat kesepuluh yaitu, “Air Tala”  (tala artinya tendang atau sepak) ; 11). Tempat kediaman berikutnya atau tempat kediaman kesebalas yaitu dinamakan  “Kaimama Bubui” artinya ujung pohin samama. Lokasi ini dikenal sebagai lokasi terakhir yang dijadikan tempat kediaman leluhur Orang Kairatu yang saat ini berada digunung. Lokasi ini diketahui berada diatas Kepala Air Tuba; 12) setelah itu leluhur orang Kairatu mulai berpindah kea rah pesisir pantai , tetapi lokasi berikutnya yang dipilih masih berada dalam kawasan hutan yang dinamakan “Sihumana Manupokur”. Arti Sihumana yaitu merapat atau mendekat dan arti Manupokur yaitu burung kuning; 13). Proses perpinadahan lokasi pemukiman masih berlanjut. Pada lokasi bermukim yang ketiga belas, leluhur orang Kairatu mendiami tempat yang bernam “Hambaruk”  atau kampong baru. Tempat ini juga seringkali disebut “Hena Beruk”. Lokasi bermukim yang terletak disekitar pesisr pantai  sebagai lokasi yang keempatbelas dinamakan “Kairatu”  yang artinya Dengan Raja; 14) lokasi keempat belas yaitu Kairatu. Lokasi permukiman ini pernah dilanda banjir pada tahun 1939. Setelah peristiwa banjir tersebut, maka perintah Raja Kairatu pada saat itu  agar masayrakat Kairatu semuanya harus mundur kebelakang atau “Solomuri”. Nama Negei tetap dipertahankan yaitu Kairatu peristiwa ini terjadi ketika saat itu Belanda sudah menguasai Wilayah ini, sehingga Raja ditunjuk oleh Belanda dengan gelar Soulatu yang artinya bicara tas nama Raja. Raja yang lamaketika berda diNegeri empat belas tidak dapat berbahasa Melayu sehingga oleh Belanda ditunjuk menggantikan posisi Raja.Orang yang menggantikan Rja tersebut diberi gelar Soulatu; 15). Negeri terkahir tetpa memiliki nama Kairatu, namun kedudukannya lebih 200m kearah barat dari Negeri yang lama.
                Perlu dikemukakan juga bahwa, pada lokasi kediaman mereka yang ke 12 (dua belas) di Sihumane Manupokur. Mata Rumah dimaksud adalah mereka yang berasal dari fam atau marga Taniwel,Rumahlatu,Akollo,Rumaela, dan Leirisal, maupun lainnya.

STRUKTUR MASYRAKAT NEGERI KAIRATU
                Struktur masyrakat Negeri Kairatu terdiri dari marga asli yaitu Ruspanah (marga-marga lainnya yaitu Taniwel,Rumahlatu,Akollo,Rumaela, dan Leirisal) baru bergabung ketika leluhur orang kairatu menempati lokasi Pemukiman yang ke 12. Pemimpin di Negeri Kairatu atau Hena Upui (negeri tuan)atau juag tuan negeri adalh mereka yang berasal dari mata rumah Ririmori.
                Status atau kedudukan, peran, dan fungsi marga dalam masyarakat telah mengalami perubahan cukup mendasar ketika pemberlakuan UU No 5 tahun 1979 tentang Sitem Pemerintahan Desa sehingga lembaga sendiri tidak berfungsi sama sekali. Kecuali lembaga mata rumah yang merupakan mata rumah perintah masih bertahan dan setelah itu juga dalah lembaga Soa. Status atau kedudukan lembaga Soa, peran, dan fungsinya dan masih dalam proses pemerintahan dan ini ketika pemrintah memberlakukan UU No 32 Tahun 2004, dan Perda No 14 ini masih tetap terpekihara secara baik.

KEDUDUKAN KAIRATU DALAM LEMBAGA SANIRI TALA BATAI
                Status atau kedudukan,peran, dan fungsi dalam lembaga saniri Tala Bataiberdasarkan penuturan dari Raja Negeri Kairatu memiliki kaitan dengan pelaksanaan Saniri terkahir ketika leluhur mereka masih mendiami Nunusaku.n terakhir dari  Saniri terakhir tersebut dinamakan “Saniri Larue La Batai”.Pertemuan terakhir dari Saniri Larue La Batai ketika masih berda di Nunusaku yaitu mereka duduk diatas sebatang pohon kayu pal Hutan yang sudah ditebang.
                Pohon kayu pala hutan ini dijadikan sebagai tempat duduk atau kursi.Dalam pertemuan ini semua orang diberikan kesempatan untuk terpencar untuk mencari tempat bermukim yang baru.Mereka  yang keluar pertama dalah orang0orang yang turun melalui batang air Eti atau Heti. Heti artinya air keluar pertama kali.Leluhur orang Kairatu kemudian keluar berikutnya.
                Mengenai pentepan tugas dan tanggung jawan untuk mengawasi wilayah petuanan Tala Batai, maka Inama punya kebijaksanaan yang mereka tetapkan di Amarole. Inama-Inama yang diangkat untuk menjaga petuanan terdiri dari :
1.       Inama Salewei(ulu parang) dari Watui, yaitu mata rumah Lesiela.dikenal juga sebagai Negeri adat Pertama.
2.       Inama Sailibubui (ujung parang) dari Kairatu
3.       Inama Tunia Siwalete dari Hualoy 
4.       Inama TahisanePoput Samale (jaga batas) dari Kaibobu yaitu penjaga batas antara batang air Tala dan Batang Air Eti.
5.       Inama Tahisane Pesu Halue dari Elpaputih untuk menjaga batas antara Tala dan Pata Lima di kali/Sungai Mala.
Genting Tanah Kota Nia merupakan tempat Saniri Inama Tiga Batang Air (Tala,Eti,Sapalewa) melakukan musywarah untuk menyerang kerajaan Huamual.

BATAS WILAYAH KAIRATU
        Batas wilayah Negeri Kairatu di-sebelah Timur dengan Huku-Kepala Air Tala dengan Watui kea rah Yerewai sampai Seruawan, batas ssebelah Barat dengan Sungai Riuapa sampai dengan Telaga (Gaba) dan air Waimital air (air Udang), sebelah Utara dengan Rumbatu, dan sebelah Selatan dengan Laut.

KONDISI FISIK DESA
                Dilihat dari letak geografis desa kairatu terletak pada posisi sebelah timur kabupaten sweram bagian barat dan berada pada pusatn kecamatan kairatu, yang membawahi 12 (dua belas ) anak dusu antara lain :

NO

NAMA DUSUN
1
PAKARENA
2
KALAPA DUA
3
WAISELANG
4
SIOMPU
5
WAITASI
6
LEAMAHU
7
HATURAPA
8
TINANURUI
9
WAISARI
10
RIUWAPA
11
AIR BUAYA
12
TALAGA RATU

Luas Desa kairatu adalah 43,41 km2  secara administrative desa kairatu memiliki batas batas wilayah sebagai berikut :
·         Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Hunitetu
·         Sebelah Selatan berbatasan dengan laut
·         Sebelah timur berbatasan dengan Desa Kamariang
·         Sebelah Barat berbatasan dengan Desa waimital dan Waipirit


Ø  Topografis

Desa Kairatu merupakan sebuah desa yang terletak di pesisir pantai sampai dengan daerah pegunungan sebagian desa kairatu ± 50% erupakan daerah daratan rendah , sementara 50%  merupakan daerah pegunungan , dan pada dataran rendah digunakan untuk pemukiman dan untuk lokasi pertanian serta infrastruktur.
Sementara pada dataran pegunungan seluruh lokasi diisi dengan perkebunaan yang di tanami oleh cengkih,kelapa,coklat,pala dan buah buahan sebagai usaha masyarakat dalam mengelolah potensi alam yang ada untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.
Ø  Hidrologi
Desa kairatu adalah sebuah desa yang di aliri oleh banyak sungai.  Ada sungai yang besar dan pula sungai sungai kecil, dan dugunakan untuk kebutuhan sehari hari seperti mandi ,cuci,minum dan juga untuk aliran pertanian diantaranya perswahan.
Ø  Keadaan Iklim
Temperatur rata-rata di kairatu berdasarkan data badan pusat statistic tahun 2007 adalah 26,2°C, dimana temperature maksimum rata-rata 31,0 C dana temperature minimum rata-rata 22,5°C. jumalh curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juni sebesar 631 mm, sedangkan jumlah hari hujan terbanyak juga terjadi pada bulan Juni sebanyak 24 hari. Udara pada Desa Kairatu rata-rata 32°C

Ø  Jaringan Transportasi, Listrik dan Telekomunikasi

Untuk jaringan transportasi, listrik dan komunikasi, Desa kairatu telah terpenuhi kebutuhannya dari ketiga jenis sarana ini. Desa Kairatu desa kairatu memiliki 23trayek dari kairatu ke desa desa lain  di dalam desa kairatu  dan 11 rtayek yang melayani rute kairatu piru .jaringan listrik di kairatu tersedia dan melayani seluru kk di kairatu siang maupun pada malam hari . jaringan  telekomunikasi tersedia dengan  pelayanan 2 [dua] provider  yang tersedia yaitu telkomsel dan indosat. Hal ini mengakibatkan kemampuan masiarakat  untuk mengakses fasilitas transportasi dan komunikasi semakin  semakin tinnggi hal ini juga di dukung dengan letak lokasi desa yang berada pada lokasi yang cukup strategis yaitu selain sebagai lokasi  yang cukup strategis yaitu selain berada pada simpul pergerakan barang dan jasa di pulau seram yaitu pada jalur trans seram yang menghubungkan kabupaten seram bagian barat dengan Maluku tengah dan seram bagian timur

 Perekonomian Desa
 Sector perekonomian yang banyak berkembang di desa kairatu adalah pada bidang pertanian seperti pengusahaan tanaman pada sawah,ubi kayu ,ubi jalar jagung dan kacang tanah .

oleh : Alul Hehanussa

Senin, 01 Juli 2013

Upacara masa kehamilan Suku Nuaulu

1. Pengantar
Nuaulu adalah salah satu sukubangsa yang ada di Provinsi Maluku, Indonesia. Mereka mendiami salah satu pulau yang tergabung dalam provinsi tersebut, yaitu Pulau Seram yang termasuk dalam wilayah Maluku Tengah. Di kalangan mereka ada suatu tradisi yang termasuk dalam upacara lingkaran hidup individu, yaitu upacara yang berkenaan dengan masa kandungan seseorang apabila telah mencapai usia sembilan bulan.

Kehamilan bagi masyarakat Nuaulu dianggap sebagai suatu peristiwa biasa, khususnya masa kehamilan seorang perempuan pada bulan pertama hingga bulan kedelapan. Namun pada saat usia kandungan seorang perempuan telah mencapai sembilan bulan, barulah mereka akan mengadakan suatu upacara. Upacara baru diadakan pada usia kandungan telah mencapai sembilan bulan karena masyarakat Nuaulu mempunyai anggapan bahwa pada saat usia kandungan seorang perempuan telah mencapai 9 bulan, maka pada diri perempuan yang bersangkutan banyak diliputi oleh pengaruh roh-roh jahat yang dapat menimbulkan berbagai bahaya gaib. Bukan saja bagi dirinya sendiri dan anak yang dikandungnya, tetapi juga orang lain di sekitarnya, khususnya kaum laki-laki. Dan, untuk menghindari pengaruh roh-roh jahat tersebut, si perempuan hamil perlu diasingkan dengan menempatkannya di posuno.

Selain itu mereka juga beranggapan bahwa pada hakekatnya kehidupan seorang anak manusia itu baru tercipta atau baru dimulai sejak dalam kandungan yang telah berusia 9 bulan. jadi dalam hal ini (masa kehamilan 1-8 bulan) oleh mereka bukan dianggap merupakan suatu proses dimulainya bentuk kehidupan.


2. Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Penyelenggaraan upacara kehamilan diadakan ketika usia kandungan seorang perempuan telah mencapai sembilan bulan. Patokan yang dipakai untuk mengetahui usia kandungan seorang perempuan adalah dengan meraba bagian perut perempuan tersebut yang dilakukan oleh dukun beranak (irihitipue). Apabila irihitipue menyatakan bahwa usia kandungan perempuan tersebut telah mencapai 9 bulan, maka ia akan mengisyaratkan kepada seluruh perempuan dewasa anggota kerabat perempuan tersebut untuk segera mempersiapkan perlengkapan, peralatan dan bermusyawarah untuk menentukan waktu penyelenggaraan upacara (dapat pagi, siang atau sore hari).

Musyawarah penentuan hari oleh perempuan dewasa anggota kerabat perempuan yang sedang mengandung itu dinamakan mawe. Jadi, penentuan kapan akan dilaksanakan upacara kehamilan tergantung dari hasil mawe tersebut. Sebagai catatan, upacara masa kehamilan tidak boleh dilaksanakan pada malam, karena malam hari dianggap saat-saat bergentayangan berbagai jenis roh jahat yang dapat menyusup ke tubuh ibu maupun sang jabang bayinya, sehingga bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (buruk) pada anak yang bersangkutan. Sedangkan tempat pelaksanaan upacara kehamilan sembilan bulan dilakukan di rumah perempuan yang sedang mengandung dan di posuno.

Penyelenggaran upacara kehamilan sembilan bulan melibatkan di dalamnya pemimpin upacara dan peserta upacara. Pemimpin upacara adalah irihitipue (dukun beranak). Irihitipue adalah suatu gelar khusus bagi seorang perempuan yang bertugas membantu dalam proses melahirkan. Dengan kata lain, irihitipue dapat disebut sebagai bidan tradisional atau dukun bayi. Selain sebagai dukun, irihitipue juga dianggap sebagai orang yang berpengetahuan tentang hal-hal gaib yang berkisar di sekitar dunia roh. Oleh karena itu, dia biberi hak dan tanggung sebagai penyelenggara teknis upacara bagi perempuan, baik upacara haid pertama, kehamilan, maupun upacara setelah melahirkan.

Sedangkan peserta upacara adalah para perempuan dewasa dari soa (kelompok kerabat) perempuan yang hamil dan suaminya. Mereka akan mengikuti prosesi upacara, baik di rumah maupun di posuno. Selain itu mereka jugalah yang menyediakan segala perlengkapan, menentukan waktu akan dilangsungkannya upacara dan sebagai saksi pelaksanaan upacara.


3. Peralatan
Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara kehamilan pada suku bangsa Nuaulu hanyalah sebuah posuno. Posuno adalah bangunan yang dibuat khusus untuk pelaksanaan upacara yang didirikan di tengah-tengah hutan. Tujuan dari pendirian bangunan tersebut adalah untuk pengasingan bagi kaum perempuan apabila akan melahirkan dan bagi perempuan yang sedang haid. Kaum laki-laki tidak boleh mendekati bangunan ini. Hal itu disebabkan adanya kepercayaan bahwa jika ada laki-laki yang mendekatinya, maka laki-laki tersebut akan dihinggapi oleh kekuatan gaib yang bersifat destruktif.

4. Jalannya Upacara
Ketika seorang perempuan yang masa kehamilannya telah mencapai 9 bulan, maka ia akan diantar oleh irihitipue (dukun beranak) dan kaum perempuan yang ada di dalam rumah atau tetangga yang telah dewasa menuju ke posuno. Pada waktu perempuan tersebut berada di depan pintu posuno, irihitipue membancakan mantra-mantra yang berfungsi sebagai penolak bala. Mantra tersebut dibaca oleh irihitipue dalam hati (tanpa bersuara) dengan tujuan agar tidak dapat diketahui oleh orang lain, karena bersifat sangat rahasia. Hanya irihitipue dan anggota keluarga intinya saja yang mengetahui mantra tersebut.

Selesai membaca mantra, perempuan hamil tersebut diantar masuk ke dalam posuno. Rombongan kemudian pulang meninggalkan wanita tersebut. Dia setiap saat dikunjungi oleh irihitipue untuk memeriksa keadaan dirinya. Semua keperluan wanita hamil ini dilayani oleh wanita-wanita kerabatnya. Sebagai catatan, dia akan tetap berdiam disitu tidak hanya sampai selesainya upacara kehamilan 9 bulan, tetapi sampai tiba saat melahirkan hingga 40 hari setelah melahirkan.

Setelah si perempuan hamil berada di posuno, maka pihak keluarga akan memberitahukan kepada seluruh perempuan dewasa dari kelompok kerabat (soa) perempuan hamil tersebut dan dari kelompok kerabat suaminya untuk berkumpul di rumah perempuan tersebut dan selanjutnya pergi menuju ke posuno untuk mengikuti upacara masa hamil sembilan bulan. Sebelum mereka menuju ke posuno, para perempuan dewasa tersebut akan berkumpul berkeliling di dalam rumah untuk memanjatkan doa kepada Upu Kuanahatana agar si perempuan yang sedang hamil selalu dilindungi dan terbebas dari pengaruh roh-roh jahat.

Usai memanjatkan doa di dalam rumah, mereka menuju ke posuno bersama-sama dan dipimpin oleh irihitipue. Setelah sampai di posuno, mereka kemudian duduk mengelilingi si perempuan hamil tersebut, sedangkan irihitipue mendekati si perempuan dan duduk di sampingnya. Perempuan hamil tersebut kemudian dibaringkan oleh irihitipue lalu diusap-usap perutnya sambil irihitipue mengucapkan mantra-mantra yang tujuannya adalah untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari Upu Kuanahatana. Pada saat irihitipue mengusap-usap perut perempuan hamil tersebut, para kerabatnya yang duduk mengelilingi pun juga memanjatkan doa-doda kepada upu kuanahatana.

Dengan selesainya pembacaan mantra, maka selesailah pula pelaksanaan upacara masa kehamilan sembilan bulan. Para kerabat dan irihitipue kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sementara si perempuan hamil tetap tinggal di posuno hingga melahirkan dan 40 hari setelah masa melahirkan. Untuk keperluan makan dan minum selama berhari-hari di posuno, pihak kerabatnya sendiri (soanya) akan selalu mengantarkan makanan dan minuman kepadanya.

5. Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara masa kehamilan sembilan bulan. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, gotong-royong, keselamatan, dan religius.

Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota keluarga dan masyarakat dalam suatu tempat (pada saat acara pesta suu anaku) untuk makan bersama. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman bagi perempuan yang hamil dan menjadi pemimpin upacara.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa pada masa usia kehamilan yang telah mencapai sembilan bulan adalah masa yang dianggap kritis bagi seorang perempuan, karena pada masa inilah ia dan bayi yang dikandungkan rentan terhadap bahaya-bahaya gaib yang berasal dari roh-roh jahat yang dapat berakibat buruk pada keselamatan dirinya sendiri maupun bayinya. Untuk mengatasi gangguan-gangguan roh-roh halus tersebut, maka perlu diadakan suatu upacara untuk mencari keselamatan keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dilakukan oleh kelompok kerabat perempuan, baik sebelum berangkat ke posuno maupun pada saat berlangsungnya upacara. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan perlindungan dari Upu Kuanahatana dan roh-roh para leluhur. (ali gufron)



Sumber:
Suradi Hp, dkk. 1982. Upacara Tradisional Daerah Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mengenai Saya

Foto Saya
Berdasarkan kecintaan saya akan tanah kelahiran dan dengan mengumpulkan tulisan dari berbagai sumber, Blog sederhana ini saya buat, saya berharap Blog ini bisa memberi informasi mengenai Sejarah dan Budaya Maluku bagi siapapun yang membaca. Jika ada yang kurang atau salah dalam penulisan saya mohon maaf sebesar-besarnya. TAVEA : -SEI HALE HATU HATU LISA PEI , SEI LESI SOU SOU LESI EI ! MENA MURIA! -KAPITAN MERAH- Son Of Alifuru

remember your roots

remember your roots
 
© Copyright 2035 Son Of Alifuru
Theme by Yusuf Fikri