Kapitan Jonker

13.36





Kapitan Jonker adalah nama seorang pemimpin kelompok pasukan Maluku yang mengabdi kepada VOC. Ia terlibat dalam banyak pertempuran untuk membantu menegakkan kekuasaan VOC di Indonesia. Di akhir hayatnya, ia dikenai tuduhan berbuat makar dan tewas ketika kediamannya diserbu pada tahun 1689.
Jonker berasal dari keluarga bangsawan Muslim di Maluku. Nama Jonker sendiri diperkirakan bukan nama asli, melainkan padanan gelar tamaela yang biasa digunakan di Ambon pada zaman itu. Namanya tertulis dalam sebuah akte tahun 1664 sebagai JonckerJouwa de Manipa, menunjukkan kemungkinan bahwa ia berasal dari Pulau Manipa, Seram Barat. Awalnya ia berjuang keras melawan kekuasaan VOC. Perlawanan tersebut diperkirakan terjadi antara tahun 1634 - 1643, yaitu pada Perang Hitu II atau disebut juga Perang Wawane. Akan tetapi ia kalah, dan pasukan perlawanannya serta pasukan Raja Tahalele dari Pulau Boano menjadi tawanan VOC.


Kapten Yonker dan Aru Palaka 


Kapten Yonker dan Aru Palaka adalah orang-orang yang turut memperkuat pasukan Belanda. Pasukan yang mereka pimpin sewaktu di Minangkabau cukup membuat repot karena keberanian dan keahlian berperangnya. Meskipun Kapten Yonker dan Aru Palaka ini berperang untuk pasukan Belanda namun kehebatan mereka dalam berperang patut mendapat catatan tersendiri. Akhir hidup dari Kapten Yonker ini sebagai pendukung Belanda yang setia dan banyak jasanya cukup mengenaskan, dikhianati oleh bangsa Belanda yang dibela dengan nyawa. Sentot Alibasya masih lebih beruntung yang hanya di istirahatkan dengan mewah di Bengkulu.

Sekitar tahun 1654, ia berada dalam pengawasan Arnold de Vlamingh van Oudtshoorn, dan termasuk dalam bagian dari pasukan pimpinan Kapitan Raja Tahalele yang ditempatkan di Batavia. Saat itu ia menjadi wakil Raja Tahalele, dan kemungkinan mulai menggunakan gelar raja muda, yang dipadankan menjadi jonker dalam bahasa Belanda. Saat memimpin pasukan Maluku dalam pertempuran VOC di Srilangka, Raja Tahalele mengalami luka parah. Jonker diangkat menjadi pemimpin penggantinya, dan sejak saat itulah gelar kapitan mulai disandangnya. Setelah pertempuran tersebut, ia memimpin pasukan Maluku yang bermarkas di Batavia.

Kapitan Jonker terlibat di berbagai medan perang lainnya dalam membantu VOC, antara lain di Timor, pantai barat Sumatera, Sulawesi, pantai timur Jawa, Palembang dan Banten. Dalam salah satu pertempuran terakhirnya yang berlangsung selama tujuh tahun (1675 - 1682) melawan Trunojoyo, ia bahkan memimpin pasukan besar yang tidak saja terdiri dari orang-orang Maluku, melainkan juga orang-orang Makassar, Bugis, dan Mardijkers. Atas jasa-jasanya, ia mendapatkan suatu wilayah di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Sampai akhir tahun 1960-an, wilayah tersebut masih dikenal masyarakat dengan sebutan Pejongkoran.

Perang di Minangkabau
Jacob Gruys pada bulan April 1666 dengan 200 pasukan Belanda dan pasukan-pasukan pembantunya menyerang kota Pauh untuk memadamkan pemberontakan rakyat. Serangan itu berakhir tragis bagi Belanda, hanya 70 serdadu yang kembali hidup-hidup, Jacob Gruys sendiri juga tewas, begitu pula 2 kapten dan 5 letnan.
Kekalahan tragis Jacob Gruys ini membuat Belanda kehilangan muka dan orang-orang Minang mulai memandang rendah Belanda serta melanggar kesepakatan dagang yang telah dibuat. Keadaan ini harus segera diatasi, maka pada bulan Agustus 1666 diberangkatkan dari Batavia 300 serdadu Belanda, 130 serdadu Bugis dibawah Aru Palaka dan 100 serdadu Ambon dibawah Kapten Yonker dibawah pimpinan Abraham Verspreet dengan gelar Komandan dan Komisaris.
Kepada Verspreet ditegaskan bahwa dalam setiap formasi tempur, pasukan Bugis pimpinan Aru Palaka dan pasukan Ambon pimpinan Kapten Yonker harus selalu berada didepan pasukan Belanda supaya korban dari pihak Belanda bisa dikurangi.
Setelah konsilidasi di Padang, pasukan Belanda mendapat tambahan sekitar 500 orang dari kota Padang yang ternyata dalam peperangan nanti tidak banyak membantu tetapi cukup gesit dalam melakukan penjarahan setelah peperangan selesai.
Dalam peperangan pertama, korban dipihak Belanda adalah 10 orang tewas dan 20 luka-luka termasuk Aru Palaka dan Kapten Yonker yang terkena 3 buah tusukan tombak. Pasukan Aru Palaka dan Kapten Yonker ini sering kali terpisah dengan pasukan induk disetiap peperangan karena begitu sibuk membantai (biasanya dengan memenggal kepala) dan sulit diperintah untuk tetap dalam barisan.
Kota Ulakan dapat diduduki pada tanggal 28 September dan Aru Palaka mendapat gelar Raja Ulakan. Pada tanggal 30 September, pasukan Belanda sampai di Pariaman, disini Kapten Yonker diangkat sebagai Panglima (rakyat setempat menamakannya Raja Ambon) dan harus diberikan upeti. Tanggal 3 November, ekspedisi itu kembali ke Batavia dengan kemenangan. Aru Palaka dan Kapten Yonker mendapat banyak hadiah dalam bentuk pakaian dan emas serta masing-masing mendapat 20 ringgit untuk setiap tawanan yang dibawa dari Minangkabau.

Kapten Yonker dan Pasukan Ambon
Kapten Yonker dengan pasukan Ambonnya adalah kesatuan yang terdiri dari orang-orang Ambon, tetapi jangan membayangkan sebuah pasukan yang berseragam dan berbaris menyandang senapan. Mereka adalah sebuah kelompok yang tanpa seragam dan tanpa kemampuan baris-berbaris ataupun disiplin seperti pasukan profesional modern. Bersenjata senapan saja mereka tidak, satu-satunya senjata yang mereka pakai adalah kelewang dan beberapa memakai perisai. Pasukan ini hanya tunduk kepada perintah satu orang saja yaitu Kapten Yonker atau dikenal juga sebagai Kapten Ambon.
Dalam keadaan normal, pasukan ini adalah orang-orang yang baik hati dan menaruh hormat pada orang lain, tetapi bila saat gelap mata lebih baik segera menjauh dari mereka. Saat bertempur mereka laksana harimau kelaparan, tidak takut mati, mata merah, berteriak-teriak dan tidak pandang bulu, siapapun pasti dipenggal.
Di Batavia, pasukan ini ditempatkan di Kampung Ambon, daerah Jatinegara sedangkan Kapten Yonker sebagai pemimpin pasukan Ambon ini memiliki rumah yang cukup bagus dan tanah yang luas di Marunda dekat Cilincing, didaerah Penjonkeran.
Entah darimana ia mendapatkan julukan Kapten Yonker, tidak pernah tercatat dalam sejarah. Kapten lahir dipulau Manipa, Seram Bagian Barat dan meninggal di Batavia tahun 1689 saat Kapten Yonker berusia 50 tahun.
Kapten Yonker adalah anak emas Jenderal Speelman dan karirnya mulai mudar sesudah meninggalnya Speelman. Berkat jasanya yang besar pada Belanda, Kapten Yonker menerima rantai kalung emas sebagai medali seharga 300 ringgit. Gajinya pun cukup besar pada pada tanggal 1 Januari 1665 diangkat sebagai kepala orang-orang Ambon di Batavia.
Pengalaman perang Kapten Yonker cukup banyak, ia pernah dikirim oleh Belanda ke India dan Sailan, dimana tangan kirinya lumpuh karena tertembak. Kapten Yonker juga dikirim ke Sumatera Barat tahun 1666 dibawah pimpinan Verspreet dan Poolman. Kemudian dikirim lagi ke Makasar, Ternate, Banda dan Ambon serta Jawa Timur. Pasukan Ambonnya juga pernah menjadi pengawal pribadi Susuhunan Mataram. Kapten Yonker berserta pasukan Ambonnya lah yang berjasa menangkap Trunojoyo. Pada tahun 1681, Kapten Yonker dikirim ke Palembang dan Jambi segera disusul untuk melawan Sultan Abdul Fatah dari Banten tahun 1682 - 1683.

Akhir Tragis Kapten Yonker
makam kapitan jonker
Menjelang tahun 1689, Kapten Yonker dituduh ingin menggulingkan kekuasaan Belanda di Batavia dan terbunuh saat hendak ditangkap untuk diadili.
Menurut pengarang Belanda, Van der Chijs yang menulis sebuah buku khusus yang didedikasikannya pada Kapten Yonker, banyak perwira Belanda tidak menyukai tentara pribumi yang mendapat tempat istimewa dan penghargaan tinggi karena keberaniannya dimedan tempur. Isaac de Saint Martin adalah seorang perwira Belanda yang sangat dengki dan iri hati akan kehebatan Kapten Yonker ini, setelah Speelman meninggal maka tidak ada lagi orang Belanda yang membela Kapten Yonker.
Kapten Yonker beserta pasukannya mengamuk di Batavia pada bulan Agustus 1689 karena merasa dikhianati, dihina dan bercampur aduk perasaan kecewa terhadap perlakuan orang-orang Belanda. Kapten Yonker dituduh ingin membunuh semua orang-orang Belanda di Batavia. Ini adalah tuduhan yang paling berat di Batavia kala itu yang sekaligus berarti hukuman mati. Sebuah tuduhan yang tidak masuk akal karena kedudukan Belanda di Batavia saat itu telah cukup kokoh namun apapun dilakukan untuk sekedar legitimasi dalam menyingkirkan Kapten Yonker ini.
Kapten Yonker dan pasukannya bukan pertama kali mengamuk di Batavia, demikian seringnya ia mengamuk sehingga ketika melihat pasukan Belanda datang, Kapten Yonker mengira pasukan itu datang untuk menenangkan pasukan Ambonnya seperti biasa sebelumnya. Hanya kali ini, Kapten Yonker tidak tahu bahwa Penjongeran telah dikepung dari tiga jurusan oleh pasukan-pasukan Belanda termasuk kesatuan yang mendarat dari laut. Malah Kapten Yonker ini sempat bersendau gurau dengan pasukan Belanda yang datang itu sebelum tiba-tiba ditembak.
Setelah Kapten Yonker tewas, Pasukan Ambonnya yang berjumlah 130 orang, dibantai Belanda dan mayatnya dicincang. Mereka yang melarikan diri, terus dikejar oleh pasukan Belanda untuk dimusnahkan karena hadiah yang besar yang ditawarkan pemerintah Belanda bagi siapa saja yang dapat membunuh bekas pengikut Kapten Yonker.
Kepala Kapten Yonker ini kemudian dipamerkan dipinggir jalan didaerah kota (Nieupoort). Semua keluarga terdekatnya dan anak-anak Kapten Yonker (kecuali anaknya yang terkecil dibuang ke Sailan dan Afrika. Juru tulis dan pembantu Kapten Yonkerpun termasuk orang-orang yang ikut dibuang oleh Belanda. Semua harta benda, tanah dan rumahnya disita dan dibagikan pada pasukan Belanda yang berjasa membunuhnya.


sumber : 
http://thewildeasthindia.blogspot.com/2012/03/kapten-jonker-kapitan-jonker.html

You Might Also Like

1 komentar

  1. Saya org sulawesi tp skrg krja di ambon. Sy coba2 cari sejarah Ambon.. Eh dapat Article yg menarik. Bro... Sy prnah baca buku brjudul "heritage of Arung Palakka" disana tercatat nama kapitan Jonker. Arung Palakka, Kapiten Jonker, Cornelis Janzen Spellman adalah trio horor nusantara abad17. Mereka berkonsolidasi demi memulihkan nama dan harga diri dari negri lain yg menjajah negeri merka. Krna itu mereka bekerjasama, bukan berarti mmbantu belanda menghancurkan Indonesia krna jaman itu belum ada Indonesia.Tragis'y sy kecewa setelah gubernur belanda dibatavia digantikan Kapten Jonker yg dulu membantu setiap pertempuran malah di khianati dan di bunuh.

    BalasHapus