Sejarah Negeri Waai

01.52




Rumphius mencatat bahwa pada zaman daulu kala negeri Waai yang nama aslinya Hunimua Risinai Waitutuitu Labuhan Saheut terletak di sebuah pegunungan tinggi yang jauh dari pantai dan letaknya di barat laut. Waai adalah sebuah kampong Kristen yang sejak zaman Portugis, selalu bermusuhan dengan negeri-negeri Islam yang berperang sampai ke Baguala. Sejak tahun 1633 Waai diserang oleh Kimelaha Luhu dari Seram dan juga dengan orang-orang Islam Hitu. Di kemudian hari orang-orang Waai pun pindah dari pegunungan itu dan mendiami pesisir pantai putih yang indah yang diberi nama Putiressi pada dataran dimana mengalir air Pera. Disebut demikian karena air sungai itu berkilauan seperti perak yang terletak di belakang negeri dimana muncul pula air terjun. Pada waktu itu Waai diperintah oleh orang kaya yang bernama Johan Bakarbessy yang merupakan tokoh keduabelas duduk dalam Landraad. Pada tahun 1656 ia dibuang di pulau Rossingyu di Pulau Banda karena membuat kerusuhan di pegunungan dengan penyembahan kepada Butu Ulisiwa merupakan suatu aliran kepercayaan dari perserikatan ulisiwa, dan kemudian ia diganti oleh Manuel Cayado ( Kayadoe ).
Waai tidak termasuk persekutuan adat Ulilima melainkan Ulisiwa. Petuanan Waai penuh dengan hutan Sagu namun kurangnya pohon Cengkih karena faktor udara yang sangat dingin dan lembab. Di antara Waai sebelah timur dan Mamala disebelah barat, terdapat gunung-gunung yang sangat tinggi di pulau Ambon yang sukar didaki dan sangat berbahaya.
Asal Usul Penduduk dan Terbentuknya Negeri
Dari catatan-catatan yang ditulis oleh rijali dan Rumphius serta cerita-cerita para tetua Adat dan oleh masyarakat negeri Waai sendiri bahwa para datuk dan nenek moyang masyarakat Waai berasal dari Pulau Seram dan Jawa ( Tuban ). Semula pegunungan Salahutu  belum didiami penduduk kemudian datang pendatang dari Seram.
Semula ada tujuh buah kampong atau Eri yang kemudian bersepakat untuk mencari suatu negeri yang saat ini dikenal dengan nama Waai. Kronologi cerita dapat dituturkan sebagai berikut. Pada mulanya pegunungan Salahutu tak berpenduduk. Seorang laki-laki tiba di gunung ini yang bernama Paumete yang berasal dari Nunusaku dengan berjalan kaki naik ke gunung, konon Pulau Sram dan Pulau Ambon menyatu. Paumete kembali ke Seram menjemput saudara perempuannya yang bernama Isamete dan kembali bersama ke Salahutu. Ia pun mengawini adiknya itu lalu kedua orang tua mereka pun mengetahuinya  dan menjadi marah dan akhirnya menyumpahi kedua anak itu. akibat sumpahan itu maka pulau Seram dan pulau Ambaon menjadi terputus. Kedua kakak beradik itu adalah penduduk pertama di pegunungan Salahutu ini. setelah mereka bberanak cucu, mereka membangun sebuah pemukiman yang diberi nama Simalopu ( Panah dan Tembok ), keturunan mereka pun menjadi banyak dan mereka pindah ke suatu tempat yang bernama Tua Pela ( Tuhan Ela ). Kemudian salah satu keluarganya berpisah dari keluarga besar Tuangela dan bermukim di tempat yang bernama Eri Eluhu yang dipimpin Nuhurela. Eluhu merupakan suatu negeri atau Eri yang pertama di gunung karena telah dibangun dengan baik, sedangkan penduduk Tuangela kemudian lenyap entah kemana.
Setelah itu terbentuklah kampong atau Eri yang kedua yang dibangun leh mata rumah atau Clan Reawaruwyang terdiri dari sembilan keluarga dari tiga orang Kapitan yaitu Panta, Masahehe dan Spatenu. Mereka datang dari Kelawaru ( Seram ) dan hanyut dengan sebatang kayu besar, kemudian terdampar di muara sungai pantai Waai. Mereka terharu dan menangis karena gembira sebaba telah selamat tiba di pantai dan kemudian sungai itu diberi nama Wai Matayang artinya Air Mata. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menyusur pantai ke arah Selatan sampai munulnya Fajar di Ufuk Timur. Pantai ini mereka namai Putihesi yang artinya cahaya Putih. Perjalanan terus dilanjutkan dan akhirnya beristirahat di suatu tempat yang disebut Usmusin. Sementara beristirahat mereka bertemu dengan seorang yang dari kampong Eluhu yang turun ke Pantai mencari Bia atau Siput. Orang-orang Eluhu kembali ke kampungnya dan memberitahukan kepada pimpinan Nuhurela. Kemudian orang-orang Kewalaru itu dipanggil dan diberi suatu tempat yang benama Pauresi. Karena tempat ini tidak terlalu aman maka mereka berpindah ke Amusala, kemudian lagi pindah ke tempat yang lebih aman yang diberi nama Eri Nani di sebelah selatan  Eri Eluhu.  Di Eri Nani mereka menetap untuk seterusnya dan Eri ini merupakan kampong kedua di Pegunungan ini.
Beberapa waktu kemudian tibalah sekelompok orang pendatang dari Seram yang dikenal sebagai mata rumah Matakupan dengan menaiki sebuah Gusepa. Mereka naik ke gunung dan bertemu dengan Upu Nuhurela, Nuhurela menyambut mereka dan memberi daerah yang menjadi pemukiman mereka yang bernama Eri Pokingsaung yang kemudian menjadi kampong ketiga.
Kemudian muncul lagi pendatang baru yaitu mata rumah Pattimukay, dan tempat pemukiman mereka dinamai Eri Pakingsaung. Ini merupakan Eri yang keempat. Tak lama kemudian muncul juga kelompok mata rumah Tahitu yang mendiami Eri Hunimua yang letaknya kearah Timur laut dari Eri pakingsiang. Kemudian eri yang keenam yang ditunjuk oleh Nuhurela yaitu Eri Amalaing yang dihuni oleh mata rumah Tuanahu yang letaknya agak ke Selatan dari Eri Hunimua. Eri yang terakhir yakni Eri yang ketujuh ialah Eri Amaheru yang didiami mata rumah Tuasela yang letaknya di selatan dari Eri Amalaing. Ketujuh Eri di Gunung Salahutu ini dipimpin oeh seorang raja, yang namanya tak begitu jelas.
Meskipun mereka berkuasa secara otonom di negeri masing-masing namun mereka tunduk pula kepada kuasa seorang Sultan ( pimpinan Agama Islam ) yang pada waktu itu berekdudukan di Eri Eluhu yakni Nuhurela. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa ketujuh eri tesebut adalah beragama Islam. Dapat dibuktikan dengan adanya bangunan Masjid di Eri Nani, yang nantinya baru pada abad ke – 17 datanglah orang-orang Kristen melalui usaha para Zendeling.
Pengkristenan oleh para Zendeling di daerah ini sebagai berikut. Ada seorang Pendeta yang bernama Honden Horendari negeri Rumahtiga bersama kedua pembantunya pada suatu waktu menjalankan tugas mereka di Pegunungan Salahutu. Yang menunuk jalan ke Salahutu ialah Lodrikus. Sebelum berangkat mereka menyiapkan berbagai perelengakapan dan pembekalan antara lain sebuah baul besar yang berisi ikan dan air yang dipergunakan sebagai air baptisan. Mendekati Eri nani, sang pendeta dimasukan bersama-sama dengan ikan dan air Baptisan itu. pada waktu mereka tiba di Eri Nani yaitu pada hari Jumat, penduduk sementara bersembahyang. Bakul misterius itu diletakan para pembantu di depan Masjid. Pada saat selesai sembahyang, kerumunan orang mendekatinya karena para pembantu itu berteriak-teriak menjajakan barang jualannnya. Sambil masyarakat mendekatinya, sang pendeta pun keluar dari bakul dan memercikan air ke arah orang banyak itu. yang terkena percikan air tetap tinggal di tempatnya sedangkan yang tidak terpercik melarikan diri berhamburan. Yang lari ke arah timur lalu menyeberang ke Kailolo di pulau Haruku, ke sebelah Barat  menuju negeri Wakal dan Morella dan ke Utara menuju negeri Liang dan yang ke Selatan menuju Tulehu. Yang ke utara bersembunyi di dalam Liang-liang ( Gua ), di kemudian hari tempat mereka disebut dengan Liang ( negeri Liang sekarang ). Yang berpindah ke negeri Liang ialah mata rumah Matakupan yang kemudian menjadi Rehalat di Liang, matarumah Kayadu menjadi Lessy dan Talaperuw menjadi Oper. Yang melarikan diri kea rah selatan berkumpul pada suatu tempat, di bawah pohon-pohon yang atasnya menjadi sarang kelompok burung  Nuri ( Toi ). Lama kelamaan tempat itu disebut dengan nama Toirehu / Tuirehu dan akhirnya menjadi Tulehu. Matarumah yang lari ke Toiheru ialah matarumah Tuanahu yang menjadi Nahumarury, dan mata rumah Salamony yang menjadi Tuasalamony. Yang lari ke barat menuju Morella, Wakal dst dan kea rah timur di negeri Kailolo di pulau Haruku menurunkan mata rumah Marasabessy. Sementara mereka yang kena air baptisan tetap tinggal di ketujuh Eri itu dan menjadi pemeluk agama Kristen.
Setelah menetap beberapa lama di pegunungan itu, ketujuh eri itu dianjurkan oleh Pendeta Honden Hoden untuk turun berdiam di tepi pantai karena kebutuhan hidup akan terpenuhi secara mudah dan lebih baik. mereka kemudian berkumpul di Eri Nani dan bermusyawarah untuk turun ke pantai. Musyawarah menyetujui untuk turun ke pantai. Printisan dan pencarian tempat pemukiman yang baik belum juga ditemukan. Beberapa tempat telah diincar namun letaknya tidak strategis karena dikelilingi sungai-sungai besar yang sewaktu-waktu bisa membanjir dan membahayakan pemukiman penduduk.
Suatu saat sorang yang bernama Moyang Janis ( Johanis ) mengambil prakarsa mencari tempat pemukiman yang baik itu. ia adalah putara sulung dari sultan Nuhurela dengan nama lengkapnya Janes Tuhalauruw. Diceritakan bahwa Moyang Janis mengambil tombak pusakanya dan sebuah Kelopak Kering Bunga Kelapa diikatkan pada tombak tersebut. Kelopak kering bunga kelapa itu dibakar dan dilemparkan menuju sasarannyadan tertancap di sebuah dataran yang agak berbukit karang. Tombak tersebut dicari dan akhirnya ditemui. Pada waktu dicabut keluarlah air bening menjadi sebuah mata air dan diberi nama Ula Mata ( Tanda Mata ) dari Upu Ula yaitu Moyang Janis dan tombak pusaka itu diberi nama Tombak Negeri yang artinya Tombak yang mencari tempat untuk mendirikan negeri. Setelah itu mereka kembali ke gunung untuk mengatur penurunan ke pantai. Melalui musyawarah maka raja Eri Nani ditentukan menjadi pemimpin mereka di negeri yang baru nanti dan ia adalah Moyang Barnadus Reawaruw. Negeri yang diperusaha ini diberi nama Waai yang artinya negeri yang diapit oleh sungai-sungai besar yang bersumber dari gunung Salahutu.

#sumber : waiselaka.wordpress.com

You Might Also Like

1 komentar