SEJARAH TERBENTUKNYA NEGERI ADAT "RUMAHTIGA"

06.28

ASAL MULA BERDIRINYA NEGERI “RUMAHTIGA”, SALAH SATU DIANTARA 22 “NEGERI ADAT” YANG ADA DI KOTA AMBON.




Universitas Pattimura Ambon
Dahulu kala, diatas lereng-lereng bukit karang dan batu-batu terjal, di ketinggian kurang lebih 500 kaki dari permukaan laut. Di tengah hutan jazirah Hitu bahagian selatan, terdapat satu dudun kecil yang saat itu di kenal dengan sebutan atau Para Datuk, nenek moyang di Maluku yakni Aman atau Hena “Hukuinallo”. Nama Hukuinallo mengandung arti dalam bahasa daerah Maluku yaitu “Gunung Ibu Melindungi”. Aman atau Hena Hukuinallo adalah bahagian dari Uli Sewane, yang dipimpin oleh Aman Wakal sebagai saudara gandong yang tertua. Lebih dikenal sampai dengan saat ini sebagai salah satu negeri gandong Rumahtiga, bersama-sama dengan negeri Hitu Messing di utara pulau Ambon. Pada saat itu hidup rukun, aman dan damai. Masyarakatnya yang terdidri atas suku-suku pribumi asli Maluku yang biasa disebut Alifuru dari pulau Seram atau “Nusa Ina”, yaitu “Pulau Ibu” bagi kepulauan Maluku, serta para pendatang dari luar pulau Ambon, antara lain dari Maluku utara dan lain-lain. Suasana kehidupan didalam keterbatasan dan kesederhanaan walau hanya mengadalkan pekerjaan sebagai petani dan pencari hasil hutan yaitu Damar dan Rotan sebagai penyambung hidup mereka sehari-hari. Suatu ketika, tanpa mereka sadari, datanglah sumber bencana sebagai manusia Raksasa yang pada akhirnya membuat mereka ketakutan. Tercerai berai mencari perlindungan didalam gua-gua, batu karang yang banyak tersebar di hutan sekitar Aman atau Hena Hukuinallo untuk menyelamatkan diri dari serangan manusia Raksasa, yang biasa disebut dalam bahasa hari-hari orang Ambon yaitu Jaganti. Akibat keganasan Jaganti atau Raksasa itu dari waktu ke waktu, akhirnya penduduk Aman tau Hena Hukuinallo menjadi berkurang bahkan hamper punah karena dimangsanya. Pada suatu ketika, dari celah-celah gua persembunyian, diantara sekian banyak batu-batu karang yang masih berdiri kokoh hingga kini di bahagian utara dusun Air Alii di negeri Rumahtiga. Para penduduk Aman atau Hena Hukuinallo yang tersisa mulai mencari jalan keluar untuk menghabisi Jaganti tersebut sambil mempertahankan diri dari kepunahan. Namun upahnya itu bersia-sia, malahan kepunanhan senantiasa menanti mereka di depan mata. Didalam suasana yang penuh duka dan keputusasaan akhirnya penduduk Aman atau Hena Hukuinallo menbangun hubungan dengan salah satu Aman atau Hena di jezirah Leitimur yaitu Soya. Sekaligus mereka meminta bantuan untuk menangkal kegansan Jaganti yang sudah semakin menjadi-jadi itu. Dari hubungan yang dibangun serta permintaan bantuan penduduk Aman atau Hena Hukuinallo akhirnya dari Aman atau Hena Soya dikirimkan seorang Kapitan atau Hulubalang, yaitu Kapitan Soplanit, dibantu oleh Kapitan Sahurilla untuk menolong masyarakat/penduduk Aman atau Hena Hukuinallo. Dengan akal licik dari Kapitan Soplanit yang berpura-pura mengambil Air Nira atau Sageru dari pohon mayang, akhirnya Jaganti tersebut berhasil dibunuhnya dengan cara menombak, menggunakan kayu Nibung, penyangga tandan bunga Gamutu atau bunga mayang sageru yang telah diruncingkan kedalam mulut Jaganti itu pada saat ditawarkan minum sageru dari atas pohon mayang yang sementara diambil air Nira atau Sageru tersebut. Setelah Jaganti atau Raksasa tersebut mati/dibunuh, mayatnya kemudian dimakamkan di hutan rotan di tanah Hen Hukuinallo dan kuburnya masih dapat dilihat hingga kini dan tempat itu akhirnya diberi nam “Dusun Jaganti”, kurang lebih 1 km di utara dusun Telaga Pange, di Aman atau Hena Hukuinallo yaitu negeri Rumahtiga. Atas jasa Kapitan Soplanit tersebut, penduduk Aman atau Hena Aman atau Hena Hukuinallo memberikan imbalan atau hadiah yaitu hasil hutan yang paling berharga pada saat itu kepada Aman atau Hena Soya berupa tanaman Damar beralaskan sumpah bahwa tanaman Damar tersebut walaupun ditanam di tanah Aman atau Hena Hukuinallo dengan cara apapun juga, tidak akan hidup tumbuh sebagaimana biasa dan anak cucu mereka diberi kehormatan untuk menetap di tanah Hen Hukuinallo. Hal ini dapat kita lihat sampai kehari-hari ini masih ada keturunan dari Kapitan Sahurilla di desa Waiyame. Setelah itu tanda-tanda kehidupan mulai kembali nampak di Aman atau Hena Hukuinallo sampai dengan abad ke 15, kehidupan itu berlanjut dalam suasana seperti semula. Di abad 15 itu mulai berdatngan bangsa-bangsa asin, yaitu Para Saudagr dari tanah Persia, bangsa Portugis dan bangsa Belanda ke Maluku untuk mencari rempah-rempah kebangaan tanah Maluku, yaitu Cengkih dan Pala. Sekaligus mereka menyebarkan agama mereka termasuk Para Missionaris yang menyebarkan agama Kristen di tanah Aman atau Hena Hukuinallo. Dapat kita buktikan bahwa orang atau penduduk Hena Hukuinallo atau Rumahtiga sebagai penganut agama-agama yang mereka bawa dan adanya makam atau kuburan keluarga missionaris kenamaan berkebangsaan Belanda, yaitu pendeta Luyke dan kelurganya di lorong Waimeteng, menuju pantai Rumahtiga, disamping rumah alarmhum pendeta J.Z. Haurissa dan makam atau kuburan atau missonaris Rooskot dan keluarganya yang adalah missionaris pengganti Joseph Kamp, rasul Maluku. Pada saat terjadi monopoli rempah-rempah oleh kompeni Belanda di tahun 1618 di kepulauan Maluku, seluruh masyarakat penduduk pribumi yang berdiam di pegunungan, termasuk penduduk Aman atau Hena Hukuinallo, diperintahkan untuk turun dari tempat kediaman mereka di Aman atau Hena Hukuinallo ke pesisir pantai sebagai tempat pemukiman mereka yang baru. Pada saat itu ialah daerah perkampungan yang hingga saat ini dikenal dengan nama kampong Pohon Mangga, diantara kompleks Den Zipur5 sekarang dan di bahagiann Timur dari tanjung Martin Alfonzo yang juga disebut dengan kata hari-hari tanjung Marthafons. Yang juga adapun keluarga-keluarga atau matrumah-matarumah atau rumah tau-rumah tau yang turun dari Aman atau Hena Hukuinallo ke pesisir pantai ialah mereka yang tersisa dari keganasan Jaganti atau Raksasa itu yang telah tewas dihabisi oleh kapitan Soplanit dari Hena Soya yaitu masing-masing:

1. Titawasilasale (Tita) (Soa Hena Hukuinallo)
2. Hatulesila (Soa Haubaga)
3. Latukau (da Costa) (Soa Parry)

Berawal dari 3 matrumah atau 3 soa adat inilah akhirnya perkampungan mungil ini diberi nama baru oleh bangsa Belanda yang saat itu telah menjajah Nusantara, ialah “Drie Huizen” yang bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia ialah “Rumahtiga”. Sejarahpun berkembang dan negeri Rumahtiga menjelma menjadi negeri adat yang maju, pesat dibindang pembangunan, dibidang kemasyarakatan dan social budaya. Setelah datang tambahan keluarga-keluarga baru dari negeri-negeri tetangga di Maluku tengah, antara lain; keluarga Persulessy, Hendriks, Hitalessy, Kastanya, Huwae, Limba, Marlisa, Hatumessen, Dominggus, Marthinus (asli Martinez), Pattirajawane, Pariury, Molle, Siwalette, Talakua, Mataheru, Saimima, Lopulissa, Mustamu, Lainsamputty, Cols, Sohilait dan lain-lain keluarga yang turut memberikan andil membangun negeri Rumahtiga menjadi “Negeri Adat” yang utuh, terbentang dengan petuanannya yang berbatasan antara;

-sebelah Utara : negeri Wakal dan Hitumessing
-sebelah Selatan : teluk Dalam dan teluk Ambon
-sebelah Timur : Hunuth – Durian Patah (yang adalah petuanan negeri Halong)
-sebelah Barat : negeri Hative Besar

Negeri Rumahtiga dalam statusnya sebagai “Negeri Adat” diantara 22 Negeri Adat yang terbesar di kota Ambon dan mempunyai 2 kampung-bawahan, yaitu Poka dan Waiyame, akhirnya menjadi negeri yang maju dan cukup dikenal di hamper seluruh belahan dunia karena disitulah saat ini bercokol pusat pendidikan tinggi negeri ternama, yang setiap saat dapat melorahkan generasi muda harapan bangsa dengan berbagai disiplin ilmu, yaitu Universitas Pattimura yang biasa disebut-sebut orang yang tidak mengerti asal-ususlnya Negeri Rumahtiga, dengan sebutan Universitas Pattimura Poka. Negeri Rumahtiga, negeri Idaman banyak insan..... perlahan tapi pasti dan selalu dikenang, oleh siapapun dia, sebagai kota pendidikan yang nantinya akan menjadi Kiblat Maluku dimasa-masa yang akang dating, sebagai kebanggaan kita semua!

Demikianlah sekelimat kisah tentang berdirinya Negeri Rumahtiga, salah satu diantara 22 Negeri Adat yang ada di dalam kota Ambon, sebagai Ibu Kota Propinsi Maluku

You Might Also Like

2 komentar

  1. maaf saudara gandong eeee
    beta jua pernah dengar cerita ini bersumber dar pak cak tita
    cerita ini hanya mitos dan tidak ada bukti kebenaran. di negeri wakal tidak ada cerita macan ini, jadi tolong jangan kotori sejarah.
    bahkan cak tita kasi nama jaganti dengan nama upu saumakan. beta yang merupakan anak cucu dari saumakan merasa di hina oleh cerita ini.

    BalasHapus
  2. Trims..yg beta tau sejarah Rumahtiga seperti ini, hanya kurang lengkap, bhw bagaimana setelah mereka turun dari negeri tua Hukuinallo, banyak sekali orang Buano yg sdh tinggal di petuanan Rumahtiga, sehingga terjadi pertempuran kecil merebut wilayah ini..dan tidak ada pihak yg menang maka diambil kesepakatan menanam pohon "gadihu" oleh dua pihak..dan ternyata yg ditanam penduduk asli yg hidup sedangkan yg ditanam orang Buano gadihunya layu dan mati, sehingga orang Buano harus keluar..maka wilayah ini dinamakan " drei housen" artinya Rumahtiga krn hanya tersisa 3 mata rumah... tulisan diatas sebelumnya benar...karena sekarang ini semuanya bermula dari sejarah masa lalu...

    BalasHapus