Selasa, 29 November 2011

SEJARAH TERBENTUKNYA NEGERI ADAT "RUMAHTIGA"

ASAL MULA BERDIRINYA NEGERI “RUMAHTIGA”, SALAH SATU DIANTARA 22 “NEGERI ADAT” YANG ADA DI KOTA AMBON.




Universitas Pattimura Ambon
Dahulu kala, diatas lereng-lereng bukit karang dan batu-batu terjal, di ketinggian kurang lebih 500 kaki dari permukaan laut. Di tengah hutan jazirah Hitu bahagian selatan, terdapat satu dudun kecil yang saat itu di kenal dengan sebutan atau Para Datuk, nenek moyang di Maluku yakni Aman atau Hena “Hukuinallo”. Nama Hukuinallo mengandung arti dalam bahasa daerah Maluku yaitu “Gunung Ibu Melindungi”. Aman atau Hena Hukuinallo adalah bahagian dari Uli Sewane, yang dipimpin oleh Aman Wakal sebagai saudara gandong yang tertua. Lebih dikenal sampai dengan saat ini sebagai salah satu negeri gandong Rumahtiga, bersama-sama dengan negeri Hitu Messing di utara pulau Ambon. Pada saat itu hidup rukun, aman dan damai. Masyarakatnya yang terdidri atas suku-suku pribumi asli Maluku yang biasa disebut Alifuru dari pulau Seram atau “Nusa Ina”, yaitu “Pulau Ibu” bagi kepulauan Maluku, serta para pendatang dari luar pulau Ambon, antara lain dari Maluku utara dan lain-lain. Suasana kehidupan didalam keterbatasan dan kesederhanaan walau hanya mengadalkan pekerjaan sebagai petani dan pencari hasil hutan yaitu Damar dan Rotan sebagai penyambung hidup mereka sehari-hari. Suatu ketika, tanpa mereka sadari, datanglah sumber bencana sebagai manusia Raksasa yang pada akhirnya membuat mereka ketakutan. Tercerai berai mencari perlindungan didalam gua-gua, batu karang yang banyak tersebar di hutan sekitar Aman atau Hena Hukuinallo untuk menyelamatkan diri dari serangan manusia Raksasa, yang biasa disebut dalam bahasa hari-hari orang Ambon yaitu Jaganti. Akibat keganasan Jaganti atau Raksasa itu dari waktu ke waktu, akhirnya penduduk Aman tau Hena Hukuinallo menjadi berkurang bahkan hamper punah karena dimangsanya. Pada suatu ketika, dari celah-celah gua persembunyian, diantara sekian banyak batu-batu karang yang masih berdiri kokoh hingga kini di bahagian utara dusun Air Alii di negeri Rumahtiga. Para penduduk Aman atau Hena Hukuinallo yang tersisa mulai mencari jalan keluar untuk menghabisi Jaganti tersebut sambil mempertahankan diri dari kepunahan. Namun upahnya itu bersia-sia, malahan kepunanhan senantiasa menanti mereka di depan mata. Didalam suasana yang penuh duka dan keputusasaan akhirnya penduduk Aman atau Hena Hukuinallo menbangun hubungan dengan salah satu Aman atau Hena di jezirah Leitimur yaitu Soya. Sekaligus mereka meminta bantuan untuk menangkal kegansan Jaganti yang sudah semakin menjadi-jadi itu. Dari hubungan yang dibangun serta permintaan bantuan penduduk Aman atau Hena Hukuinallo akhirnya dari Aman atau Hena Soya dikirimkan seorang Kapitan atau Hulubalang, yaitu Kapitan Soplanit, dibantu oleh Kapitan Sahurilla untuk menolong masyarakat/penduduk Aman atau Hena Hukuinallo. Dengan akal licik dari Kapitan Soplanit yang berpura-pura mengambil Air Nira atau Sageru dari pohon mayang, akhirnya Jaganti tersebut berhasil dibunuhnya dengan cara menombak, menggunakan kayu Nibung, penyangga tandan bunga Gamutu atau bunga mayang sageru yang telah diruncingkan kedalam mulut Jaganti itu pada saat ditawarkan minum sageru dari atas pohon mayang yang sementara diambil air Nira atau Sageru tersebut. Setelah Jaganti atau Raksasa tersebut mati/dibunuh, mayatnya kemudian dimakamkan di hutan rotan di tanah Hen Hukuinallo dan kuburnya masih dapat dilihat hingga kini dan tempat itu akhirnya diberi nam “Dusun Jaganti”, kurang lebih 1 km di utara dusun Telaga Pange, di Aman atau Hena Hukuinallo yaitu negeri Rumahtiga. Atas jasa Kapitan Soplanit tersebut, penduduk Aman atau Hena Aman atau Hena Hukuinallo memberikan imbalan atau hadiah yaitu hasil hutan yang paling berharga pada saat itu kepada Aman atau Hena Soya berupa tanaman Damar beralaskan sumpah bahwa tanaman Damar tersebut walaupun ditanam di tanah Aman atau Hena Hukuinallo dengan cara apapun juga, tidak akan hidup tumbuh sebagaimana biasa dan anak cucu mereka diberi kehormatan untuk menetap di tanah Hen Hukuinallo. Hal ini dapat kita lihat sampai kehari-hari ini masih ada keturunan dari Kapitan Sahurilla di desa Waiyame. Setelah itu tanda-tanda kehidupan mulai kembali nampak di Aman atau Hena Hukuinallo sampai dengan abad ke 15, kehidupan itu berlanjut dalam suasana seperti semula. Di abad 15 itu mulai berdatngan bangsa-bangsa asin, yaitu Para Saudagr dari tanah Persia, bangsa Portugis dan bangsa Belanda ke Maluku untuk mencari rempah-rempah kebangaan tanah Maluku, yaitu Cengkih dan Pala. Sekaligus mereka menyebarkan agama mereka termasuk Para Missionaris yang menyebarkan agama Kristen di tanah Aman atau Hena Hukuinallo. Dapat kita buktikan bahwa orang atau penduduk Hena Hukuinallo atau Rumahtiga sebagai penganut agama-agama yang mereka bawa dan adanya makam atau kuburan keluarga missionaris kenamaan berkebangsaan Belanda, yaitu pendeta Luyke dan kelurganya di lorong Waimeteng, menuju pantai Rumahtiga, disamping rumah alarmhum pendeta J.Z. Haurissa dan makam atau kuburan atau missonaris Rooskot dan keluarganya yang adalah missionaris pengganti Joseph Kamp, rasul Maluku. Pada saat terjadi monopoli rempah-rempah oleh kompeni Belanda di tahun 1618 di kepulauan Maluku, seluruh masyarakat penduduk pribumi yang berdiam di pegunungan, termasuk penduduk Aman atau Hena Hukuinallo, diperintahkan untuk turun dari tempat kediaman mereka di Aman atau Hena Hukuinallo ke pesisir pantai sebagai tempat pemukiman mereka yang baru. Pada saat itu ialah daerah perkampungan yang hingga saat ini dikenal dengan nama kampong Pohon Mangga, diantara kompleks Den Zipur5 sekarang dan di bahagiann Timur dari tanjung Martin Alfonzo yang juga disebut dengan kata hari-hari tanjung Marthafons. Yang juga adapun keluarga-keluarga atau matrumah-matarumah atau rumah tau-rumah tau yang turun dari Aman atau Hena Hukuinallo ke pesisir pantai ialah mereka yang tersisa dari keganasan Jaganti atau Raksasa itu yang telah tewas dihabisi oleh kapitan Soplanit dari Hena Soya yaitu masing-masing:

1. Titawasilasale (Tita) (Soa Hena Hukuinallo)
2. Hatulesila (Soa Haubaga)
3. Latukau (da Costa) (Soa Parry)

Berawal dari 3 matrumah atau 3 soa adat inilah akhirnya perkampungan mungil ini diberi nama baru oleh bangsa Belanda yang saat itu telah menjajah Nusantara, ialah “Drie Huizen” yang bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia ialah “Rumahtiga”. Sejarahpun berkembang dan negeri Rumahtiga menjelma menjadi negeri adat yang maju, pesat dibindang pembangunan, dibidang kemasyarakatan dan social budaya. Setelah datang tambahan keluarga-keluarga baru dari negeri-negeri tetangga di Maluku tengah, antara lain; keluarga Persulessy, Hendriks, Hitalessy, Kastanya, Huwae, Limba, Marlisa, Hatumessen, Dominggus, Marthinus (asli Martinez), Pattirajawane, Pariury, Molle, Siwalette, Talakua, Mataheru, Saimima, Lopulissa, Mustamu, Lainsamputty, Cols, Sohilait dan lain-lain keluarga yang turut memberikan andil membangun negeri Rumahtiga menjadi “Negeri Adat” yang utuh, terbentang dengan petuanannya yang berbatasan antara;

-sebelah Utara : negeri Wakal dan Hitumessing
-sebelah Selatan : teluk Dalam dan teluk Ambon
-sebelah Timur : Hunuth – Durian Patah (yang adalah petuanan negeri Halong)
-sebelah Barat : negeri Hative Besar

Negeri Rumahtiga dalam statusnya sebagai “Negeri Adat” diantara 22 Negeri Adat yang terbesar di kota Ambon dan mempunyai 2 kampung-bawahan, yaitu Poka dan Waiyame, akhirnya menjadi negeri yang maju dan cukup dikenal di hamper seluruh belahan dunia karena disitulah saat ini bercokol pusat pendidikan tinggi negeri ternama, yang setiap saat dapat melorahkan generasi muda harapan bangsa dengan berbagai disiplin ilmu, yaitu Universitas Pattimura yang biasa disebut-sebut orang yang tidak mengerti asal-ususlnya Negeri Rumahtiga, dengan sebutan Universitas Pattimura Poka. Negeri Rumahtiga, negeri Idaman banyak insan..... perlahan tapi pasti dan selalu dikenang, oleh siapapun dia, sebagai kota pendidikan yang nantinya akan menjadi Kiblat Maluku dimasa-masa yang akang dating, sebagai kebanggaan kita semua!

Demikianlah sekelimat kisah tentang berdirinya Negeri Rumahtiga, salah satu diantara 22 Negeri Adat yang ada di dalam kota Ambon, sebagai Ibu Kota Propinsi Maluku

Jumat, 18 November 2011

Cengkeh Maluku dan Kilasan sejarah lengkapnya ( dari asia - timur tengah - eropa)

 Cengkeh Rempah-rempah Purbakala



Percaya atau tidak, cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi! Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagaiSpice Islands. Menanam pohon cengkeh saat seorang anak dilahirkan adalah tradisi penduduk asli Maluku. Secara psikologis ada pertalian antara pertumbuhan pohon cengkeh dan anak tersebut sehingga pohon cengkeh benar-benar dijaga dan dirawat oleh orang Maluku. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.
Perjalanan cengkeh dari daerah asalnya di Maluku sampai menjadi rempah yang dikenal dan digunakan di seluruh dunia bergulir seiring dengan garis sejarah perdagangan rempah-rempah (spice trade). Tulisan mengenai sejarah cengkeh dan spice trade bagian pertama ini mencakup pemakaian dan perdagangan cengkeh dari 5000 tahun yang lalu hingga 500 SM di kawasan Timur Tengah.
3000 SM
Rempah-rempah mungkin telah digunakan oleh manusia sejak manusia mulai menggunakan api untuk memasak. Catatan pertama tentang penggunaan rempah-rempah adalah dari bangsa Assyria (bangsa yang tinggal di kawasan Iran, Irak, Turki, dan Suriah) sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Catatan tersebut menyebutkan mitos bahwa dewa-dewa bangsa ini meminum anggur wijen (sesame) pada malam sebelum dunia diciptakan, sementara diketahui bahwa asal wijen adalah dari India Selatan. Dari sini kita mendapatkan dua bukti sejarah yaitu pemakaian dan perdagangan rempah-rempah di jaman purbakala, sekitar 5000 tahun yang lalu!
2400 SM
Bukti selanjutnya berkaitan langsung dengan cengkeh. Dari penemuan arkeologi peradaban Sumeria (peradaban purba di selatan Mesopotamia, tenggara Irak) diketahui cengkeh sangat popular di Syria pada 2400 SM. Ini bukti yang sangat kuat bahwa perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku adalah benar-benar purba.
1500 SM
Bangsa Mesir dan Somalia juga tercatat telah memanfaatkan rempah-rempah, baik untuk kuliner maupun pengobatan, sekitar 1500 SM.
Semua bukti-bukti ini menunjukkan bahwa perdagangan antara Timur Tengah dan Cina, Asia Tenggara, India, serta Spice Islands telah dimulai di jaman purbakala. Ini  juga merupakan indikasi betapa berharganya rempah-rempah, termasuk cengkeh, hingga dicari bangsa lain dengan peluncuran ekspedisi besar-besaran.
950 SM
Jalur Perdagangan Rempah-rempah Bangsa Arab












Pada 950 SM bangsa Nabatean dari utara Arab mulai berekplorasi ke Cina dan India menempuh jalur daratan mengendarai karavan yang ditarik unta dan keledai. Jalur ini disebut Incense Route karena tujuan utamanya adalah mencari incense and rempah-rempah untuk bangsa Yunani. Jalur ini kemudian menjadi sepi setelah bangsa ini beralih ke jalur maritim serta mulai melibatkan bangsa dari selatan Arab. Letak semenanjung Arab yang strategis, di persimpangan antara Eropa, Afrika, dan Asia, ditambah jalur perdagangan melalui darat yang dirintis oleh Arab sebelumnya menjadikan bangsa Arab (utara maupun selatan) penguasa perdagangan rempah-rempah di abad ke-5 SM. Jalur perdagangan yang dirintis bangsa Arab menghubungkan Arab, Baghdad, India, Guangzhou (Cina), dan Spice Islands alias Kepulauan Maluku.

Perjalanan Cengkeh di Asia


Bangsa Arab dan bangsa Kanaan / Fenisia (sekitar Lebanon di masa sekarang) adalah yang pertama memperkenalkan rempah-rempah dari Asia ke benua Eropa. Bangsa Kanaan / Fenisia adalah pelaut yang tak mengenal kata takut. Mereka menyalurkan komoditas bangsa Arab dan Afrika ke kawasan Mediterania, seperti Yunani, Romawi, Spanyol, Perancis, juga Afrika Utara. Bangsa inilah yang medominasi perdagangan dan memperkenalkan rempah-rempah dari Asia, termasuk cengkeh di kawasan tersebut.  Bangsa Fenisia akhirnya jatuh di tangan bangsa Romawi pada 332 SM. Sedangkan untuk mempertahankan dominasinya, bangsa Arab merahasiakan sumber rempah-rempah dari bangsa barat dengan mengarang dongeng yang sangat pelik tentang dimana dan bagaimana mereka mendapatkan rempah-rempah tersebut selama berabad-abad.
, bangsa Arab pada 950 SM telah mulai menjelajah ke Cina dan India untuk mendapatkan rempah-rempah dan menjadi “middlemen” antara Asia dan Eropa. Di Asia sendiri catatan sejarah mengenai cengkeh ditemukan pada 600 SM di India. Berikut adalah beberapa bukti sejarah yang dapat kami rangkum.
600SM – India
Catatan tertulis mengenai cengkeh ditemukan dalam kitab Weda, kitab suci bangsa Aria dari India Utara. Bangsa Aria adalah bangsa yang membangun peradaban Hindu dan Budha dan menyebarkannya ke seluruh penjuru Asia. Kitab Weda ditulis dalam bahasa Sansekerta pada tahun 1700 SM – 800 SM (era Hindu) dan 800 – 350 SM (era Budha). Bangsa Aria telah menggunakan rempah-rempah sejak awal peradabannya, namun perkenalan mereka dengan cengkeh tercatat dalam era Budha. Cengkeh diperkirakan mencapai India melalui Malaysia karena “lavanga” (bahasa Sansekerta untuk cengkeh) berasal dari bahasa Melayu, bunga lavanga. (Catatan: Cengkeh dalam bahasa Bali “wunga lawang” dan dalam bahasa Gayo “bungeu lawang”.) Cengkeh juga muncul dalam cerita epik Ramayana yang ditulis oleh bangsa India antara tahun 350 SM dan 1M.
Antara 600SM – 1400 M para misionaris dan pedagang India menjelajah kawasan Asia untuk menyebarkan ajaran Hindu dan Budha serta memperdagangkan rempah-rempah, salah satu komoditi terpenting saat itu. Penjelajahan mereka meliputi Cina dan seluruh Asia Tenggara, termasuk kepulauan Maluku dimana mereka mendapatkan cengkeh.
350SM – Melayu
Tidak hanya India saja yang aktif berdagang rempah-rempah. Sekitar tahun 350SM bangsa Melayu dari semenanjung Malaysia membuka jalur perdagangan Malaka, yakni jalur laut yang routenya mencakup Cina, Malaka, India dan Sri Lanka.
206 SM – Cina
Dari Cina tercatat Dinasti Han, 206 BC / SM – 220 AD / M, memanfaatkan keharuman cengkeh sebagai penyegar nafas. Semua yang hendak bertemu dan berinteraksi dengan Kaisar Cina diharuskan mengulum atau mengunyah cengkeh untuk menghindarkan kaisar dari bau nafas tak segar.
200SM
Bukti linguistik dan arkeologi menunjukkan bahwa penduduk Molluca (kepulauan Maluku) telah memperdagangkan cengkeh sampai ke Cina, India, bahkan Arab nun di barat sana.
100SM
Pedagang Arab membuka jalur perdagangan maritim ke India, Cina, dan seluruh kepulauan Melayu dan berdagang langsung dengan penduduk Maluku.

Bangsa Eropa Menemukan Jalan ke Asia


Pada bagian ini diulas bagaimana bangsa Romawi menjadi konsumen rempah-rempah yang besar dan berusaha mematahkan monopoli bangsa Arab dalam bisnis perdagangan rempah-rempah.
Era Romawi
Bisnis perdagangan rempah-rempah yang didominasi oleh bangsa Arab selama 600 tahun sangatlah ‘basah’. Bangsa barat, dalam hal ini Romawi, sangat penasaran akan asal rempah-rempah ini dan bertekad mematahkan monopoli bangsa Arab. Pada 332 SM, Alexander The Great menaklukan Mesir (yang juga merupakan titik transit penting dari Spice Route, menghubungkan Kerala dengan Afrika Utara dan Mediterania) dan menetapkan Alexandria sebagai pelabuhan untuk perluasan spice trade ke Eropa via Mediterania (Yunani dan Romawi) dan titik penarikan pajak ekspor bagi bangsa Arab yang hendak berdagang melalui Alexandria.
Alexandria menjadi semakin makmur dengan pemasukan bea cukai dari perdagangan rempah-rempah ini. Kota yang sebelumnya hanyalah sebuah kota tua ini kini berkembang menjadi pusat kekuatan angkatan laut dan militer, sedemikian kuatnya hingga pada 150 SM kawasan laut Mediterania disebut “Mare Nostrum” (Our Sea).
Pada era yang sama, 146SM, bangsa Yunani jatuh dan banyak orang Yunani yang menjadi budak dan pelayan bangsa Romawi. Bangsa Yunani dikenal sebagai bangsa yang menggunakan banyak rempah-rempah dalam masakannya. Dengan banyaknya jurumasak Yunani yang dibawa ke Romawi sebagai budak, gaya kuliner Yunani pun mulai diadaptasi oleh bangsa Romawi dan hal ini menjadikan bangsa Romawi konsumen rempah-rempah yang sangat besar. Pada 80 SM Alexandria resmi diserahkan oleh Yunani ke tangan Romawi dan menjadi pusat perdagangan international terbesar dan pasar utama perdagangan rempah-rempah yang dikontrol oleh bangsa Arab, khususnya Nabataeans dari Arab utara yang bersekutu dengan Roma. Namun, beberapa tua-tua bangsa Romawi mulai mengkhawatirkan akan tingginya kebutuhan mereka akan rempah-rempah dan arus emas Romawi yang mengalir deras ke Asia karenanya. Salah satu tua-tua itu adalah Pliny the Elder, yang bertekad untuk menemukan kebenaran tentang sumber rempah-rempah daripada percaya dengan dongeng yang diciptakan oleh bangsa Arab.
Dari catatan sejarah diketahui bahwa Yunani (sekitar 116 SM) berhasil berlayar dengan dukungan ‘trade winds’ mencapai Kerala, India. Ini berdampak terbukanya perdagangan rempah-rempah bangsa Mesir dengan India (sangat kecil dibandingkan dengan perdagangan bangsa Arab). Namun, ketika Romawi mengambil alih Alexandria, jalur perdagangan dan pengetahuan tentang ‘trade winds’ ini seakan hilang.
Bangsa Romawi akhirnya menyerang Arab pada tahun 24 SM. Tetapi serangan ini tidak berhasil dan malah mempermalukan Romawi, yang semakin bertekad untuk mematahkan monopoli Arab. Pengetahuan tentang perdagangan rempah-rempah akhirnya lambat laun terkumpul dan pada tahun 40 M seorang pedagang Yunani bernama Hippalus mengungkap rahasia ‘East Indian trade winds’, rahasia yang berhasil dikubur oleh bangsa Arab selama hampir satu milenium. Ternyata, monsoon yang berperan dalam pertumbuhan lada di India berbalik arah di pertengahan tahun sehingga perjalanan dari Laut Merah (pantai Mesir) ke India dan sebaliknya dapat dicapai dalam waktu jauh lebih singkat dan aman dari yang selama ini bangsa Romawi bayangkan. Sejak itu hubungan perdagangan Romawi langsung dengan India tumbuh subur dan monopoli Arab terpatahkan.
MonsoonAngin monsoon senantiasa bertiup di subkontinen India dan Asia Tenggara, dari arah barat daya pada bulan May hingga September dan dari timur laut pada bulan Oktober hingga April.

Mengenai Saya

Foto Saya
Berdasarkan kecintaan akan tanah kelahiran dan dengan mengumpulkan tulisan dari berbagai sumber, Blog sederhana ini saya buat.Saya berharap Blog ini bisa memberi informasi mengenai Sejarah dan Budaya Maluku kepada pembaca. Jika ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. TAVEA : -SEI HALE HATU HATU LISA PEI , SEI LESI SOU SOU LESI EI ! MENA MURIA! -KAPITAN MERAH- Son Of Alifuru

remember your roots

remember your roots
 
© Copyright 2035 Son Of Alifuru
Theme by Yusuf Fikri